KOMPAS/ALIF ICHWANKetua Dewan Pembina Dewan Pembina Pusat Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, saat mengadakan jumpa pers di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin (11/7/2011).
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga Presiden RI, menyadari bahwa kasus dugaan korupsi yang membelit sejumlah elit Partai Demokrat telah menyebabkan popularitas partai yang dipimpinnya melorot. Kenyataan ini, kata SBY, adalah suatu hal yang tak bisa dipungkirinya.
"Ini fakta, realitas, dan saya lebih bagus mengakui smemuanya sebagai realitas yang dihadapi Partai Demokrat," kata SBY pada jumpa pers di kediamannya di Puri Cikeas, Bogor, Minggu (5/2/2012).
Terkait kasus dugaan suap pembangunan wisma atlet SEA Games 2011 senilai Rp 191 miliar yang melibatkan sejumlah elit partainya, seperti Sekretaris Dewan Pembina PD Andi Mallarangeng, Ketua Umum DPP PD Anas Urbaningrum, dan Wakil Sekjen PD Angelina Sondakh, SBY mengajak para kader di seluruh tanah air untuk memahami situasinya.
Tindakan sejumlah kader itu, katanya, tak mencerminkan kebijakan partai pemenang pemilu 2009 itu. SBY juga meminta agar masalah itu diletakkan sesuai konteksnya, jangan digeser ke isu lainnya, seperti adanya konflik internal antara DPP dan dewan pembina terkait posisi Anas sebagai Ketua Umum.
Pada kesempatan itu, SBY juga meminta para kadernya untuk tetap berpikir jernih dan tak mudah dipengaruhi oleh isu-isu yang beredar. Ditegaskannya, PD masih eksis untuk membangun bangsa. PD juga tetap menjalankan program dan kebijakan dengan pro rakyat. "Para kader harus yakin tidak ada kebijakan partai yang menyimpang. Ini Penting. Percayalah sebagai parpol yang berusia muda, kita bisa mengatasi kemelut ini," kata SBY.

