Minggu, 20 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 20 Mei 2012 | 02:30 WIB
Pertanian
Harga Gabah di Kawasan Banjir Rendah
Alb. Hendriyo Widi Ismanto | Agus Mulyadi | Senin, 30 Januari 2012 | 20:53 WIB
|
Share:

Shutterstock
Ilustrasi

PATI, KOMPAS.com - Harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah desa yang masih tergenang banjir di Kabupaten Pati dan Kudus, Kabupaten Jawa Tengah, rendah. Kondisi ini menyebabkan petani merugi dan tidak mampu mengembalikan pinjaman modal tanam.

Sutrisno (45), petani Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, Pati, Senin (30/1/2012), mengatakan, harga GKP di sawah yang kebanjiran Rp 2.700-Rp 2.800 per kilogram. Harga itu lebih rendah dari GKP yang dipanen di sawah yang tidak kebanjiran, Rp 3.000-Rp 3.500 per kilogram.  

"Harga gabah itu rendah karena kualitasnya kurang baik dan belum cukup tua. Padi yang dipanen di kawasan banjir usianya rata-rata 75-80 hari atau di bawah usia panen padi normal, 90 hari," katanya.

Jumadi (50), petani Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, mengemukakan, petani terpaksa memanen dini karena khawatir padi membusuk. Panen dini menyebabkan hasil panen berkurang dari panen normal, dari rata-rata enam ton menjadi 3-4 ton.

"Panenan yang sedikit dan harga yang rendah membuat saya merugi dan bakal kesulitan mengembalikan pinjaman uang untuk modal tanam dan perawatan Rp 7 juta," kata Jumadi.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Peternakan Kabupaten Pati, tanaman padi yang terendam banjir di daerah itu mencapai 3.909 hektar. Sebanyak 2.927 hektar di antaranya mengalami puso (gagal panen), dengan usia tanam bervariasi. Areal sawah itu tersebar di sejumlah desa yang masuk daerah aliran Sungai Juwana.

Di Kudus, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan mencatat 1.507 hektar sawah di 31 desa di lima kecamatan di Kudus tergenang banjir. Peristiwa itu menyebabkan 564 hektar padi usia 7 hari-90 hari puso, sehingga total kerugian petani Rp 5,9 miliar.

Hingga saat ini, areal pertanian yang masih tergenang banjir sejak akhir Desember 2011 itu terdapat di Desa Gadudero dan Kasiyan, Kecamatan Sukolilo, Pati, dan Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus. Sebagian besar lahan pertanian itu berubah menjadi rawa-rawa yang ditumbuhi kangkung, sehingga belum dapat ditanami padi.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Kudus, Harsito, mengatakan, pemerintah telah mengajukan benih sebanyak 14,1 ton kepada Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian Jawa Tengah. Benih itu nantinya akan diberikan kepada 16 kelompok tani di 16 desa yang sawahnya kebanjiran.

"Kami berharap pemerintah menyetujui bantuan benih itu, sehingga meringankan beban petani untuk tanam di musim tanam selanjutnya," ujar Harsito.