Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 14:53 WIB
Lahan Parkir di Setneg Telan Rp 10,5 Miliar
Hindra Liu | Aloysius Gonsaga Angi Ebo | Jumat, 27 Januari 2012 | 18:59 WIB
|
Share:
KONTAN/Achmad fauzieilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Biro Tata Usaha dan Humas Kementerian Sekretaris Negara Sugiri membantah pemberitaan bahwa pembangunan sarana parkir kendaraan roda dua di kementerian itu menelan anggaran Rp 12,3 miliar. Sugiri mengatakan, pembangunan lahan parkir seluas 3.270 meter persegi ini yang dikerjakan oleh PT Adhicon Persada menelan dana Rp 10,581 miliar. Biaya ini telah termasuk biaya konsultan.

Sebelum dibangun, Kemsetneg melakukan lelang terbuka. "Fasilitas ini bukan hanya untuk parkir, tetapi juga mushala dan koperasi," kata Sugiri ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (27/1/2012).

Sarana parkir ini, sambung Sugiri, dapat menampung sekitar 1.000 sepeda motor. Sarana parkir yang terbuat dari beton ini terdiri dari dua lantai, yakni lantai dasar dan bawah tanah. Pengerjaan dilakukan selama 170 hari, mulai dari Juli hingga Desember 2011.

Saat dihubungi via telepon, Sugiri sempat berjanji akan memberikan rincian alokasi Rp 10,581 miliar. Sugiri meminta waktu untuk mencari datanya. Namun, selang beberapa menit kemudian, Sugiri menginformasikan bahwa orang yang bersangkutan telah pulang. Tak dijelaskan kapan Sugiri akan memberikannya.

Ketika ditanya tudingan adanya ketidawajaran seperti yang disampaikan Koordinator Advokasi dan Investigasi Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok Sky Khadafi, Sugiri mengatakan, pihaknya sepenuhnya menyerahkan hal ini kepada Badan Pemeriksa Keuangan RI. Setiap tahun, BPK RI melakukan audit di setiap kementerian/lembaga negara.

Sebelumnya, seperti diwartakan, Fitra menyatakan, pembangunan sarana parkir itu menelan dana Rp 12,3 miliar. Ini menunjukkan bahwa Presiden tidak konsisten terhadap ajakan untuk berhemat. "Istana memperlihatkan kemewahan sendiri dibanding fasilitas publik," kata Uchok.

Uchok mempertanyakan alokasi anggaran itu. Pasalnya, angka itu empat kali lipat dibanding biaya pembangunan parkir bertingkat dua di Dewan Perwakilan Rakyat yakni sebesar Rp 3 miliar. "Ini sungguh memprihatinkan. Lihat saja fasilitas publik sangat minim pemeliharaannya. Tapi untuk Istana, uang negara selalu bebas dihambur-hamburkan," ujar Uchok.

Sebelumnya, Fitra menyebutkan, setiap tahun, Istana Presiden selalu punya alokasi anggaran renovasi untuk gedung. Jika ditotal, anggaran untuk tahun 2012 mencapai Rp 80,4 miliar. Adapun di tahun 2011 sebesar Rp 88 miliar.

Advertorial
»