KOMPAS/LASTI KURNIAJalan rusak berlubang-lubang sepanjang hampir 10 meter membuat perjalanan terhambat dan antiran kendaraan di jalan TB Simatupang, depan Cilandak Town Square, Jakarta, Minggu (15/1/2012). Tingginya curah hujan membuat sejumlah jalan protokol di Jakarta rawan rusak berlubang-lubang dan membahayakan penguna jalan saat hujan deras.
JAKARTA, KOMPAS.com — Berlalu lintas di ibu kota Jakarta sangat tidak aman dan nyaman. Penyebabnya, tidak ada perbaikan dalam sistem transportasi publik dan jalur pejalan kaki. Padahal, kedua hal ini bisa mengurangi kemacetan yang kian parah dan panjang di Jakarta.
Hal ini ditegaskan Guru Besar Kelompok Bidang Keahlian Transportasi Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, Agus Taufik Mulyono, di sela diskusi tentang lalu lintas yang diselenggarakan Korps Lalu Lintas Polri di Jakarta, Rabu (25/1/2012).
”Saya tegaskan, berlalu lintas di Ibu Kota ini bukan tidak aman, melainkan sangat tidak aman,” kata Taufik yang juga Ketua Forum Studi Transportasi Antar-Perguruan Tinggi.
Salah satu ketidakamanan itu terlihat dari kondisi dan kualitas angkutan umum. Taufik menegaskan, tidak ada perubahan dalam pelayanan angkutan umum di Jakarta. Aneka kriminalitas, dari pencurian hingga pelecehan seksual, masih terjadi. Belum lagi perilaku pengendara angkutan umum yang kerap membahayakan penumpang atau pengguna jalan lain.
Ketidakamanan di angkutan umum membuat orang takut memakai moda transportasi ini. ”Orang yang naik kendaraan umum adalah orang berani mengambil risiko. Sebab, tidak ada jaminan keamanan dan keselamatan bagi penumpang saat menggunakan jasa kendaraan umum,” ujarnya.
Ketidakamanan dan ketidaknyamanan di angkutan umum membawa efek lanjutan, yakni orang berlomba membeli dan menggunakan mobil pribadi. Kemacetan juga tidak bisa terhindari lagi.
Terpisah, dosen Jurusan Arsitektur Universitas Pancasila, Nyoman Teguh Prasidha, menilai keamanan dan kenyamanan pedestrian juga belum mendapatkan prioritas pemangku kebijakan. Padahal, kenyamanan dan keamanan di trotoar bisa memberikan kontribusi pada pengurangan kemacetan Jakarta.
Kriteria trotoar yang layak, menurut Nyoman, sekurang-kurangnya harus aman baik dari ancaman kecelakaan lalu lintas dan kejahatan, nyaman, indah, dan memiliki kemudahan akses bagi penyandang disabilitas.
Kondisi layak tersebut bisa terlihat, antara lain, dengan adanya penerangan yang cukup, peneduh bagi pejalan kaki agar tidak kepanasan dan kehujanan, lega, permukaan rata, tidak ada gangguan (seperti pedagang atau parkir), serta menarik sehingga mendorong orang berjalan kaki.
Sayangnya, saat ini trotoar di Jakarta belum nyaman dan aman bagi pejalan kaki. Selain sering digunakan untuk kegiatan lain, seperti perdagangan dan parkir sepeda motor, banyak jalur pejalan kaki yang rusak dan sempit. Banyak trotoar juga tidak terhubung satu dengan yang lain sehingga pejalan kaki masih harus turun ke jalan raya. Terakhir, pejalan kaki di Jalan Ridwan Rais, Gambir, justru menjadi sasaran mobil yang lepas kendali.
”Salah satu ukuran kenyamanan trotoar bisa dilihat jika penyandang disabilitas bisa keluar dan nyaman menggunakan trotoar di Jakarta. Penyediaan trotoar yang nyaman ini juga menjadi indikator keberhasilan sebuah kota,” ucapnya.
Terkait kian tingginya jumlah kendaraan di Jakarta, Agus berpendapat, seharusnya Gubernur DKI Jakarta berani membatasi jumlah kendaraan yang masuk atau melintas di Ibu Kota. ”Gubernur memang tak punya wewenang membatasi produksi kendaraan, tetapi dia punya wewenang mengatur wilayahnya. Dia bisa bilang, kalau tidak dibatasi, Ibu Kota bisa rusak. Tentu harus ada koordinasi.”
Untuk itu, Gubernur DKI harus berani dan segera memperbaiki sistem transportasi umum. Perbaikan transportasi umum itu bukan sekadar mengganti bus atau membuat transjakarta. Yang jauh lebih penting adalah perbaikan sistem transportasi secara menyeluruh.
Sistem transportasi ini harus dikendalikan pemerintah. Pemerintah juga harus berani memberikan subsidi untuk keamanan dan keselamatan pengguna serta operasional kendaraan umum.
”Yang dijual di sebuah ibu kota adalah transportasi. Di Bangkok yang katanya ruwet, transportasi umum lebih aman dan nyaman. Jika benar-benar serius, sistem transportasi di Jakarta bisa selesai dibenahi dalam lima tahun,” kata Taufik.
Diperbaiki
Secara terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Ery Basworo mengatakan, hampir semua terali besi (grill) penutup gorong-gorong di Jalan Sudirman sudah dinaikkan.
”Bekas urukan atau timbunan di atas bekas proyek gorong-gorong juga hampir stabil dan akan terus disempurnakan. Sesuai rencana, Maret nanti, jalan akan dilapisi lagi atau dilayer aspal bersama-sama jalur sebelahnya sehingga kondisi permukaan jalan bakal sama rata seperti sebelum proyek gorong-gorong dilakukan,” papar Ery.
Kemarin, di sepanjang Jalan Sudirman, tepatnya dari Bundaran Api nan Tak Kunjung Padam hingga Senayan, memang tak ada lagi lubang-lubang dalam yang merupakan cerukan terali penutup gorong-gorong.
Terali besi gorong-gorong telah diangkat nyaris sejajar dengan aspal yang telah ada dan diperkuat dengan semacam semen yang diperkeras. Namun, pengendara sepeda motor atau mobil yang melewati bagian aspal bekas galian gorong-gorong masih merasakan aspal bergelombang. Akan tetapi, kondisi sekarang relatif lebih aman dilewati. (RTS/NEL/ART)

