Kamis, 2 Oktober 2014

News / Nasional

Aktivitas di Kantor Wapres

Nasi Kotak untuk Kuntoro Mangkusubroto

Kamis, 26 Januari 2012 | 09:51 WIB

KOMPAS.com - Pada Selasa (24/1/2012) siang, sinar matahari terasa terik dari Kantor Wakil Presiden di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Bahkan, dua pendingin udara tak mampu menghalau hawa panas siang itu di ruang wartawan yang hanya berukuran sekitar 5 m x 7 m.

Suasana jadi ”sumringah” dan terasa ”renyah” dengan kehadiran Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan Kuntoro Mangkusubroto untuk sekadar bersantap siang nasi kotak dan berbincang ringan bersama wartawan. Boleh jadi baru kali pertama ini pejabat setingkat menteri menyambangi ruangan wartawan di Kantor Wapres dan makan nasi kotak yang disediakan untuk wartawan.

Dalam catatan Kompas, baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, mantan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, dan tentu saja Wapres Boediono sendiri yang pernah menyambangi ruang wartawan itu. Namun, yang duduk semeja dan bersantap nasi kotak bersama wartawan, memang baru Kuntoro.

”Ikannya enak. Bener ini,” puji Kuntoro sambil melahap masakan padang berlauk ikan mas yang tersaji dalam kotak kardus.

Kuntoro menyambangi ruang wartawan selepas acara peluncuran program utama pemerintah tahun 2012 di Kantor Wapres. Sejatinya tersedia makan siang prasmanan di aula Kantor Wapres bagi peserta peluncuran program itu, termasuk bagi pejabat seperti Kuntoro. Meski demikian, Kuntoro justru memilih memenuhi undangan wartawan untuk bersantap nasi kotak bersama di ruang wartawan.

Sambil bersantap siang, Kuntoro melayani hampir semua pertanyaan wartawan, baik itu topik yang serius maupun sekadar topik-topik ringan. Nyaris tidak ada suasana formal yang tecermin dalam perbincangan dengan wartawan itu.

”Birokrasi itu kecenderungannya melayani dirinya sendiri. Itu gejala dunia. Apa yang dipikirkan birokrasi itu, ya, remunerasi, standar mobil, standar rumah, uang SPJ (surat perintah jalan),” otokritik pedas Kuntoro saat ditanya tentang kondisi birokrasi saat ini. Lontaran Kuntoro itu didasari pengalamannya sebagai pejabat di pemerintahan, termasuk sebagai menteri sekitar 12 tahun silam.

Mengutip sebuah filosofi tentang birokrasi, Kuntoro menyatakan, birokrasi sejatinya tidak layak mempertanyakan gajinya sebelum pendapatan rakyat melebihi gaji birokrasi.

Obrolan ringan mengalir saat topik beralih ke tahun baru Imlek. Salah seorang wartawati menanyakan apakah Kuntoro masih ada darah keturunan Tionghoa dan merayakan Imlek.

Setengah bercanda, Kuntoro pun menjawab, ”Menurut sahibulhikayat, ayah saya keturunan Prabu Siliwangi dan Putri China.” Gelak tawa wartawan pecah mendengar jawaban itu.

Sesaat kemudian, orang kepercayaan Presiden SBY yang sering terlihat mengenakan kemeja panjang biru muda dengan lengan tergulung itu pun berpamitan. ”Sudah kenyang. Terima kasih makan siangnya, ya. Ikannya benar-benar enak,” katanya. (C Wahyu Haryo PS)

 


Editor : Heru Margianto
Sumber: