KOMPAS/RIZA FATHONISekjen DPR Nining Indra Saleh menjelaskan kepada wartawan mengenai Ruang Badan Anggaran yang baru di kompleks Gedung DPR, Jakarta, Rabu (11/1/2012). Ruang di Gedung Nusantara II DPR ini menghabiskan anggaran lebih dari Rp 20 miliar. Upaya renovasi itu untuk mengoptimalkan kapasitas ruang, memperbarui sistem penerangan, pendingin, sound system, akustik, lantai, dan plafon.
JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Kehormatan DPR merekomendasikan agar seluruh barang impor yang sudah ada di ruang Badan Anggaran DPR diganti dengan produk lokal. Langkah itu akan menghemat keuangan negara.
Hal itu dikatakan Ketua BK M Prakosa seusai meminta penjelasan dari pihak konsultan perencana, pengawas, dan pelaksana proyek renovasi ruang Banggar di Kompleks DPR, Selasa (24/1/2012).
"Kita rekomendasi mengganti perlengkapan mewah dan impor dengan produk dalam negeri yang berkualitas baik. Pelaksanaannya nanti dibicarakan dengan Sekjen (Nining Indra Saleh) dengan konsultan," kata Prakosa.
Prakosa mengatakan, paling mahal dalam proyek itu adalah pengadaan kursi dari Jerman dengan total Rp 4 miliar. Harga satu kursi itu mencapai Rp 24 juta. Setelah itu, pengadaan tiga layar LED senilai Rp 1,3 miliar.
"Yang lain adalah karpet produk dari AS yang juga mahal dan kita minta ganti. Itu penghematannya bisa sangat besar. Saya belum bisa menghitung," kata politisi PDI-P itu.
Seperti diberitakan, renovasi ruangan seluas 780 meter persegi di Gedung Nusantara I itu hanya membutuhkan dana Rp 2,7 miliar jika sesuai ketentuan pemerintah. Berbagai barang mewah membengkakkan biaya.
Menurut pihak Setjen, berbagai barang mewah itu ditentukan oleh pimpinan Banggar ketika pihak konsultan perencana merekomendasikan beberapa barang. BK masih menelusuri dugaan pelanggaran etika dalam kasus itu.

