JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto membantah pencopotan Jenderal Pol Purn Sutanto dari posisi Kepala Badan Intelijen Negara terkait dengan kerapnya intelijen kecolongan dari berbagai peristiwa kekerasan.
Seperti yang diberitakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Komandan Kodiklat TNI Letjen TNI Marciano Norman sebagai Kepala BIN yang baru. "Saya tidak setuju kalau kecolongan. Yang pasti, memerlukan kinerja yang lebih baik, lebih solid. Ini termasuk bagaimana menghimpun semua intelijen. Itu yang menjadi tugas Kepala BIN yang baru, mengkoordinasikan fungsi intelijen yang baik," kata Djoko di sela-sela acara pidato kebijakan Presiden di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/10/2011).
Mantan Panglima TNI ini mengatakan, tak ada hal khusus di balik penunjukkan Kepala BIN dari unsur TNI terkait. Sebagai informasi, Sutanto merupakan pimpinan BIN yang pertama dari unsur kepolisian. Ada tradisi, pimpinan BIN selalu berasal dari unsur TNI. "Jangan ada dikotomi. Yang penting dia profesional. Kecuali hansip ditaruh di situ (BIN)," kilah Djoko.
Sebelumnya, Presiden ingin intelijen di Indonesia terus berkembang sehingga pengambilan keputusan dapat semakin tepat dan baik. Hal ini disampaikan Kepala Negara ketika mengumumkan perubahan susunan Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/10/2011) kemarin.
Bidang intelijen mendapatkan banyak sorotan terkait sejumlah kasus peledakan bom atau terorisme, serta kekerasan horizontal bermotifkan sentimen agama. Beberapa kasus yang mencuat, mulai dari penganiayaan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, hingga aksi bom bunuh diri yang di Gereja Bethel Injil sepenuh Kepunton, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

