Rabu, 24 September 2014

News /

TANAH AIR

"Pante Tuak" yang Mengubah Perangai

Sabtu, 1 Oktober 2011 | 04:22 WIB

FRANS SARONG

Kolang adalah nama salah satu klan besar di Manggarai, ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Seperti orang Manggarai umumnya, perangai komunitas Kolang rata-rata hangat, santun, lembut, dan terbuka hingga cenderung romantis.

Perangai itu—meski belum diteliti secara ilmiah—sangat mungkin dipengaruhi tradisi pante tuak (menyadap nira aren). Tradisi itu mengharuskan penyadap bersikap lembut dan romantis ketika harus ”merayu” pangkal mayang agar mengalirkan nira berlimpah.

Hingga tahun 1960-an, Kolang merupakan satu dari 38 hameente atau kedaluan (semacam desa) di Kabupaten Manggarai, yang belakangan merupakan wilayah tiga kabupaten—dua hasil pemekaran yang lain adalah Manggarai Barat dan Manggarai Timur. Kolang bersama Kedaluan Ndoso menjadi wilayah Kecamatan Kuwus (Manggarai Barat).

Kelompok kerabat Kolang menyebar di sejumlah kampung, seperti Wetik, Wol, Ngalo, Rawuk, Ndaong, Redek, Wajur, dan sejumlah anak kampung. Mereka secara turun-temurun menyatu dengan tradisi pante tuak.

Berbeda dari kegiatan serupa di daerah lain, di lingkungan orang Kolang cairan nira sejak awal merupakan bahan baku utama pembuatan gola kolang (gula merah). Namun, karena pembuatannya tergolong rumit dan membutuhkan kayu bakar dalam jumlah banyak, tetapi harga jualnya tidak menunjang, belakangan sebagian nira lalu disuling menjadi tuak atau sopi berkadar alkohol tinggi.

Lepas dari hasil akhir—gola kolang atau tuak—tradisi pante tuak memang menuntut perlakuan khusus. Di lingkungan orang Kolang, sebagaimana diakui tetua asal Wetik, Pius Midun (62), penduduk setempat memiliki keyakinan kuat bahwa kegiatan pante tuak hanya akan berhasil jika pangkal mayang ”dirayu” dan ”dielus” dengan penuh kasih sayang dan lembut. Rayuan dimaksud terutama saat awal penyadapan, yang lazim disebut tewa atau dende.

Begitulah, pagi itu sekitar bulan Mei 2011, Petrus Jeharu (37), penyadap asal Kampung Wetik, tengah melaksanakan tewa. Ketika memanjat aren mayang perdana di belakang rumahnya, ia hanya membawa serta potongan kayu khusus dari jenis kayu ara. Sesaat kemudian terdengar bunyi sentuhan halus ke pangkal mayang disertai suaranya berdendang dengan nada memelas. ”(Kegiatan) tewa harus terus-menerus setiap pagi-sore selama lebih kurang dua minggu,” kata ayah dua anak tersebut.

Pius Midun dan tetua lainnya, Mikael Depak (65), tak bisa memastikan perangai orang Kolang, termasuk warga Wetik dan sekitarnya di Desa Golo Riwu, yang cenderung hangat dan lemah lembut. Diduga hal tersebut dipengaruhi tradisi pante tuak yang sarat dengan situasi romantis tadi.

Sebagai contoh, penyambutan tamu selalu didahului kapok manuk dan tuak (pemberian ayam dan tuak), simbol sang tamu diterima secara adat. Contoh lainnya, dalam percakapan sehari-hari. Apabila hendak memotong pembicaraan rekan, yang bersangkutan mengawali pembicaraannya dengan kalimat: neka rabo, eta ulu keta tombo dite. Ungkapan itu semacam interupsi santun seraya mengakui pendapat atau pikiran rekan bicaranya.

Budayawan Manggarai, Marsel Robot, belum bisa memastikan tradisi pante tuak telah memengaruhi perangai orang Kolang atau Manggarai yang umumnya lembut, hangat, dan tidak meledak-ledak. ”Tidak ada salahnya jika diinterpretasikan bahwa sikap lembut dan hangat warga Kolang atau Manggarai umumnya itu dipengaruhi tradisi pante tuak,” tutur Marsel Robot, yang juga dosen FKIP Universitas Negeri Nusa Cendana, Kupang.

Gula merah atau gola kolang berbentuk potongan balok mini berukuran 20 sentimeter. Potongan gula itu selalu dalam kemasan daun aren sehingga aromanya awet terjaga.

Begitu uniknya tradisi pante tuak di Kolang membuat penyair Umbu Landu Paranggi, lima tahunan lalu, minta dikirimi jenis gula merah itu ke Denpasar, tempat tinggalnya. Permintaan tersebut menantang karena gola kolang di daerah asalnya pun sudah sangat langka sejak 1990-an. ”Gula manggarai tidak tergantikan! Jangan kau ganti yang lain,” pinta sahabat Umbu ketika itu.

Lelaki dewasa Kolang rata-rata juga paham kapan mayang aren siap disadap. Tanda-tanda awalnya adalah aroma khusus ketika mayang aren hendak mekar. Mikael Depak menuturkan, mayang pilihan para penyadap Kolang umumnya selalu berhasil mengalirkan nira. Hal tersebut dimungkinkan karena mereka mahir ”merayu” dan dapat memastikan mayang potensial atau mayang ”mandul”.

Masyarakat Manggarai beranggapan gola kolang sebagai produk khas Manggarai. Penyebutannya berubah bergantung pada sebarannya. Di Manggarai, barang itu disebut gola kolang. Namun, di luar wilayah tiga kabupaten pemekaran Manggarai, yaitu Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur, barang itu disebut gula manggarai.

Orang Manggarai, terutama di pedesaan, hingga awal 1970-an, umumnya hanya mengenal gola kolang sebagai pemanis minuman kopi, atau pemanis dari tumbukan jagung bernama rebok. Belakangan gola kolang tergusur gula pasir.

Kini, tegakan pohon aren tersisa dan terjaga di Kecamatan Kuwus dan Ndoso, wilayah Manggarai Barat bagian utara. Mengapa di sana? Hal itu karena di wilayah tersebut jarang terjadi kebakaran hutan.

Sekadar informasi, selain bermanfaat bagi manusia, aren sebenarnya juga menjadi incaran musang. Yang diincarnya adalah buah aren yang matang. Itu sebabnya, tidak jarang para penyadap aren memergoki musang sedang pulas tidur di sekitar mayang dengan buah matang.


Editor :