Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 16:34 WIB
Nazaruddin
Lebih Baik "Fitness" ketimbang Fitnah
Marcellus Hernowo | Robert Adhi Kusumaputra | Senin, 8 Agustus 2011 | 18:10 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepergian Muhammad Nazaruddin ke luar negeri sejak 23 Mei 2011 telah memunculkan banyak kisah di Indonesia. Kisah itu terutama dipicu oleh sejumlah pengakuan atau tudingannya.

Saat nama display Din ini muncul, BlackBerry Nazaruddin diduga sudah tidak aktif. Pesan yang dikirimkan Kompas.com untuknya sejak Senin pagi hingga Senin petang belum ada tanda telah diterima.

Dalam tudingannya, Nazaruddin antara lain menyatakan, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum terlibat dalam korupsi pembangunan wisma atlet di Palembang.

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat ini juga menuding Anas menggunakan politik uang untuk memenangkan perebutan Ketua Umum Partai Demokrat dalam kongres partai itu, Mei 2010.

Nazaruddin menyampaikan berbagai tudingan itu melalui berbagai media, mulai dari telepon, surat elektronik (e-mail), pesan di BlackBerry Messenger, hingga Skype.

Terkait pesan yang disampaikannya melalui BlackBerry Messenger, Nazaruddin beberapa kali mengubah nama tampilan (display name) di BlackBerry miliknya. Mulai dari 'M Nazaruddin', lalu 'M Nazar', hingga pada Senin (8/8/2011) pagi tadi diketahui berganti lagi menjadi 'Din.'

Saat nama 'Din' ini muncul, BlackBerry Nazaruddin diduga sudah tidak aktif. Pesan yang dikirimkan Kompas.com untuknya sejak Senin pagi hingga Senin petang belum menunjukkan tanda telah diterima.

Meski demikian, status pesan di BlackBerry Nazaruddin tidak pernah berubah, yaitu tetap: "Lebih Baik Fitness ketimbang Fitnah." Berdasarkan catatan Kompas.com, status pesan itu pernah dipakai Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menjelang akhir 2010.

Persisnya, ketika heboh penjualan perdana saham PT Krakatau Steel. Saat itu, sejumlah kalangan menilai harga saham perdana Krakatau Steel terlalu murah, hingga memunculkan rumor aksi ini terkait dengan kepentingan politik pihak tertentu.

Peniruan status pesan ini menjadi menarik, terutama karena Anas dan Nazaruddin memang pernah memiliki hubungan dekat. Nazaruddin menjadi anggota tim sukses Anas saat Kongres Partai Demokrat, Mei 2010.

Saat Anas menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, Nazaruddin juga mendapat jabatan penting di partai itu, yaitu bendahara umum partai dan bendahara fraksi. Namun, berbagai kiprah Nazaruddin di Partai Demokrat itu agaknya sekarang telah berakhir. 

Advertorial
»