Selasa, 2 September 2014

News /

Dana Akomodasi Perlu MOU

Rabu, 13 April 2011 | 03:11 WIB

Jakarta, kompas - Kementerian Pemuda dan Olahraga belum membayarkan biaya penginapan, konsumsi, bahan bakar minyak, dan uang rekreasi tim pelatnas SEA Games XXVI/2011. Untuk pencairan, induk organisasi cabang olahraga dan kementerian perlu menyusun nota kesepahaman.

Sejak pelatnas SEA Games resmi dimulai medio Februari lalu—bahkan sebagian besar cabang memulainya lebih awal— biaya akomodasi, konsumsi, dan kebutuhan lainnya bagi para atlet dan pelatih masih dipenuhi oleh tiap-tiap cabang olahraga.

Biaya itu di antaranya adalah sewa rumah bagi penginapan tim atletik nomor lari jarak menengah dan jarak jauh di Pangalengan, Jawa Barat, yang dibiayai induk organisasi cabang; biaya penginapan dan konsumsi atlet senam oleh pelatih dan manajer tim; juga biaya penginapan, konsumsi, dan latihan atlet balap sepeda oleh pengurus PB ISSI.

Bendahara Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Sunarto, Selasa (12/4), menyatakan, pembayaran dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk akomodasi, konsumsi, dan lainnya harus didasarkan pada nota kesepahaman (MOU) dengan tiap induk organisasi cabang. ”Karena uang negara, jadi harus jelas pertanggungjawabannya,” kata Sunarto, yang juga Kepala Subbagian Kas dan Perbendaharaan Kemenpora.

Untuk penyusunan nota tersebut, Kemenpora perlu bertemu langsung dengan induk organisasi. ”Kami jadwalkan pertemuan berlangsung pekan depan,” kata Sunarto.

Dalam pertemuan itulah Kemenpora akan memperoleh masukan tentang besaran biaya yang dibutuhkan setiap cabang beserta komponennya. Salah satu komponen yang ingin dipastikan adalah kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) yang berbeda-beda di tiap cabang.

Sejumlah cabang memang perlu BBM relatif besar untuk melaksanakan pelatnas, di antaranya dayung yang harus pergi-pulang Jatiluhur (markas tim) ke Situ Cipule, atau balap sepeda nomor jalan raya yang setiap latihan harus dikawal oleh para pelatih bersepeda motor.

Di luar biaya BBM, Kemenpora memiliki patokan biaya baku, misalnya uang penginapan dan konsumsi sebesar Rp 150.000 per orang per hari dan uang rekreasi untuk keseluruhan pelatnas Rp 1 juta per orang.

Selain itu, Kemenpora juga menyediakan dana pembelian suplemen. Besaran dana yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan setiap cabang. ”Dana suplemen di luar nota kesepahaman dan didasarkan pada permintaan cabang. Sejauh ini belum ada cabang yang meminta dana pembelian suplemen. Dari pelatnas sebelum ini, dana yang kami berikan antara Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per bulan per atlet,” kata Sunarto.

Ketua Umum PB ISSI Phanny Tanjung mengatakan, selama ini biaya itu tertutupi dengan bantuan pendanaan dari PT Telekomunikasi Indonesia selaku bapak angkat PB ISSI. ”Kami sudah mengajukan proposal mengenai kebutuhan-kebutuhan itu. Kami berharap MOU dengan Kemenpora mengenai kebutuhan segera bisa ditandatangani,” ujarnya.

Uang saku diambil

Hingga kemarin, ujar Sunarto, para manajer tim dari 37 cabang dan subcabang telah mengambil uang saku atlet dan pelatih dari bendahara Satlak. Uang saku Rp 11 miliar bagi 41 cabang dan subcabang sudah cair, Jumat (8/4). Adapun tiga cabang lainnya, yakni tenis meja, bulu tangkis, dan sepak bola, belum disiapkan karena penerbitan surat keputusan pelatnasnya belum tuntas.

Cabang yang telah mengambil uang saku antara lain loncat indah dan renang indah. ”Sempat ada keterlambatan uang saku dan gaji, tetapi semua sudah terselesaikan,” kata Kepala Bidang Loncat Indah PB PRSI M Yasin.

Pelatih renang indah, Ragil Sugirestu Andayani, menyatakan, uang saku atlet dan gaji pelatih telah mereka terima pekan lalu. Sebaliknya, atlet renang perairan terbuka belum menerima.

”Saya akan menghubungi PRSI dan Satlak Prima Utama. Jangan sampai karena belum dapat uang saku, mereka berlatih dengan semangat yang tidak penuh,” kata Kepala Bidang Renang Perairan Terbuka PB PRSI Amir Husein.

Sunarto memastikan, pembayaran uang saku bulanan akan lancar mulai awal Mei. ”Uang saku kami berikan kepada manajer tim untuk diteruskan kepada atlet dan pelatih. Agar uang saku bulan berikutnya dapat diberikan, kami lebih dulu perlu menerima tanda terima uang saku per atlet yang terdahulu,” tutur Sunarto. (ECA/HLN/YNS)


Editor :