Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Mei 2013 | 11:47 WIB
FILM
Drama di Sekitar Warung China
Minggu, 3 April 2011 | 03:37 WIB
|
Share:

Sutradara Hanung Bramantyo mengaku risih oleh anggapan yang mengatakan bahwa ada agama ”keras” dan ”tidak toleran”. Lewat film berjudul ? (baca: tanda tanya) yang disutradarainya, ia memberi pernyataan bahwa anggapan itu keliru.

Film ? cukup cermat mencatat peristiwa dan persoalan sosial yang selama ini cenderung menghuni benak ketimbang dibicarakan secara terbuka sebagai persoalan bersama. Oleh Hanung, persoalan-persoalan yang berkaitan dengan keberbedaan tersebut dibeberkan dan diletakkan pada tokoh-tokohnya. Pada setiap persoalan itu pula Hanung selalu menyertakan pencerahan dan penyelesaian secara aman dan damai—dan bahkan ada yang dibikin mengharukan.

Film dibuka dengan simbol-simbol berbagai agama. Lalu, penonton diajak masuk ke lanskap sosial berlatar Jawa dengan segala keragaman etnis dan agama. Ada masjid, gereja, kelenteng lengkap dengan sekelumit ritualnya. Ada rumah makan penyaji masakan China, milik Tan Kat Sun (Hengky Sulaiman) yang mempekerjakan perempuan Jawa berjilbab, taat beribadah. Warung Pak Tan memang bukan menjadi panggung utama film. Namun, setiap tokoh terkait dengan keberadaan warung China ini.

Menuk, diperankan oleh Revalina S Temat , perempuan berjilbab itu bekerja di rumah makan penyaji menu yang diharamkan. Ia tekun bekerja karena ia tahu pemilik resto yang pemeluk Konghucu/Buddha sangat toleran dan menghormati pemeluk agama lain.

Tan Kat Sun memang sangat memahami kondisi sosial di sekitarnya. Ia, misalnya, memisahkan antara peranti dapur yang digunakan untuk makanan halal dan haram. Ia memberi libur Lebaran cukup kepada karyawan yang merayakannya.

Ping Hen alias Hendra (Rio Dewanto), anak Tan Kat Sun, mempunyai orientasi bisnis yang berbeda dengan ayahnya. Ia tidak mempertimbangkan aspek sosial seperti ayahnya. Sikapnya itu menuai akibat, yaitu restonya diamuk massa. Namun, amuk tersebut juga menjadi solusi bagi Hendra menjadi lebih peka.

Hendra mencintai Menuk, tetapi Menuk memilih Soleh (Reza Rahadian), lelaki penganggur yang seiman. Soleh menjadi anggota Banser dan suatu kali mendapat tugas menjaga perayaan Natal. Ia sempat menolak bertugas mengamankan gereja karena menganggap itu bertentangan dengan agamanya. Namun, ia mendapat semacam pencerahan dari teman-temannya sesama anggota Banser. Soleh bahkan kemudian menjadi pahlawan yang menyelamatkan gereja dari ledakan bom.

Rika (Endhita) adalah janda yang berpindah agama. Rika sering mendapat cemoohan dari orang-orang, tetapi ia teguh pada pilihannya karena baginya agama adalah urusan pribadi. Adapun Abi, anak tunggalnya, dibebaskan menganut agama yang pernah dianut sang ibu. Didekati oleh Doni (Glenn Fredly) pria seiman, Rika memilih pria lain yang berbeda agama. Orangtua Rika bahkan juga bisa menerima pilihan anaknya.

Surya (Agus Kuncoro) adalah aktor yang hanya mendapat peran figuran. Suatu kali ia mendapat peran utama dalam drama sandiwara Paskah dan Natal. Ia merasa jengah karena bukan seorang pemeluk Nasrani. Akan tetapi, oleh seorang ustaz ia mendapat penguatan untuk menjalani profesinya sebagai aktor, termasuk harus tampil di gereja.

Heroisme terselubung

Aksi setiap tokoh pada film ini oleh Hanung tidak disuguhkan sebagai semacam ”heroisme”. Ia justru menunjukkan adanya heroisme terselubung, false heroism , yang berlindung di balik bendera agama.

Amuk Soleh dan kawan-kawannya di resto Tan Kat Sun tidak didasari oleh ketersinggungan kelompok, tetapi juga unsur dendam pribadi Soleh yang cemburu kepada Hendra. Pilihan Surya tampil sebagai aktor di gereja bukan semata urusan sikap hidup aktor, tetapi juga didorong oleh kebutuhan honor yang memang sangat dibutuhkan Surya sebagai aktor yang kantongnya pas-pasan. Doni yang mengompori massa agar drama Natal dibatalkan bukan didasari karena Surya, sang aktor, berbeda agama. Doni marah karena cemburu kepada Surya yang bisa dekat dengan Rika.

Lewat tokoh Romo (Deddy Sutomo), film ini memberi catatan sosial. Romo mengizinkan Surya yang Muslim bermain drama di gereja. Romo memberi pesan kepada umatnya yang sempat dibakar sentimen keagamaan yang dikobarkan Doni. ”Pernahkah dengar kehancuran agama karena adanya sebuah drama? Kehancuran agama karena kebodohan. Jangan sekali-kali berbuat bodoh!”

Solusi-solusi itu memang terasa berlebihan dan terkesan agak menggurui. Namun, Hanung merasa perlu memberi penjelasan sejelas-jelasnya lewat adegan, dialog, bahkan kutipan ayat lewat teks. Ia mempertimbangkan tingkat penerimaan penonton yang berbeda-beda. Ketika dihadapkan pada masyarakat, sebagai sutradara Hanung mengaku perlu mengambil sikap konformistis. ”Kekhawatiran saya, nanti itu tidak tuntas,” kata Hanung kepada Kompa s.

Film ? menjadi semacam komentar sosial ( social commentary ) pada hubungan antarmanusia dalam kehidupan di Indonesia saat ini. Film ini menjadi menarik karena menemukan konteks sosialnya.(Frans Sartono)

• Film: ”?” • Sutradara: Hanung Bramantyo • Skenario: Titien Wattimena • Pemeran: Reza Rahadian, Revalina S Temat, Agus Kuncoro, Rio Dewanto, David Chalik, Hengky Sulaiman, Glenn Fredly • Produser: Celerina Judisari/Hanung Bramantyo • Produksi: Mahaka Pictures & DapurFilm Production, 2011

Editor :