AMBON, KOMPAS.com — Sebagian warga Ternate di Maluku Utara dan Ambon, Maluku, panik setelah mengetahui tsunami yang terjadi di Jepang akan melanda wilayah Maluku dan Maluku Utara, Jumat (11/3/2011). Sebagian warga yang tinggal di pesisir pantai memilih mengungsi ke daerah yang lebih tinggi.
Ismed Sulaiman, salah satu warga Ternate yang dihubungi dari Ambon, Maluku, mengatakan, kepanikan warga terlihat sejak sekitar pukul 17.00 waktu Indonesia bagian timur (WIT). Jalan-jalan ramai oleh rombongan orang yang hendak mengungsi. Semua menuju ke arah perbukitan di lereng Gunung Gamalama.
Selain kepanikan warga, arus lalu lintas transportasi laut dari Ternate ke Pulau Halmahera maupun Pulau Tidore juga dihentikan sementara.
Sementara di Ambon, sebagian warga di pesisir pantai, persisnya di kawasan Waihaong, memilih mengungsi ke daerah yang lebih tinggi, seperti di Kebun Cengkeh. Sebagian lagi memilih berjaga-jaga di luar rumah. Kepanikan ini terlihat setelah pihak pengurus masjid setempat, sekitar pukul 18.30 WIT, mengumumkan agar warga waspada.
”Ada imbauan dari masjid untuk mengungsi karena dikhawatirkan tsunami akan sampai di Ambon, makan ya kami ikut mengungsi,” kata Aminah (40), salah satu warga Waihaong.
Mulai sekitar pukul 17.00 atau setelah memperoleh informasi bahaya tsunami akan sampai di Maluku Utara dan Maluku, jaringan telekomunikasi di kawasan Maluku dan Maluku Utara ikut tersendat. Warga kesulitan menelepon atau mengirim pesan singkat.

