Kamis, 27 November 2014

News / Travel

Hongkong Memang Surga Belanja...

Senin, 14 Februari 2011 | 11:11 WIB

KOMPAS.com — Dari Makau kami sampai juga ke terminal feri di Hongkong Kowloon. Tak salah jika Hongkong disebut sebagai surga belanja. Di mana-mana adalah tempat belanja. Keluar dari feri, saya tiba-tiba sudah berada di lantai atas sebuah mal. Berhubung penginapan kami berada di daerah Nathan Road, kami pun langsung mengarah ke MTR dengan dipandu satpam mal. Wow, MTR-nya luar biasa penuh. Ya, kami memang tengah berada di sebuah daerah paling padat di dunia. Maka tak heran jika Anda kemari, lautan manusia senantiasa ada di hadapan Anda.

Hongkong sendiri merupakan satu dari dua daerah administratif khusus RRC. Salah satunya adalah Makau yang sudah kita bahas sebelumnya. Sebelum diserahkan ke China pada 1 Juli 1997, Hongkong adalah koloni Britania Raya. Jadi, meski sama-sama China, nuansanya berbeda jika Anda ke Hongkong, Makau, atau China.

Oya, Hongkong ini terdiri dari beberapa pulau. Saya sendiri ada di Hongkong Kowloon dan besok berencana menyeberang ke Hongkong Island, lalu lusanya menyeberang lagi ke Lantau Island. Untuk info tentang akomodasi di Hongkong sudah dibahas di tulisan sebelumnya. Namun, ada sedikit tambahan informasi. Jika Anda menggunakan MTR, maka pastikan untuk mengetahui tempat tujuan Anda berada di dekat gedung apa yang paling terkenal di sana. Ini akan memudahkan Anda untuk menemukan pintu mana sebaiknya yang harus Anda gunakan untuk keluar dari stasiun MTR. Fungsinya, tentu kita tidak usah berputar-putar jauh karena stasiun MTR sangat besar dan memiliki banyak pintu yang mempermudah seseorang menemukan lokasi tujuannya.

Penginapan murah meriah di Hongkong. Kami di sini menginap di Asia Travel House, tempat biasanya para backpacker atau wisatawan berbudget murah menginap. Ya… jangan mengharapkan fasilitas kamar mewah. Namanya juga murah meriah di kawasan pusat kota he-he-he.... Yang penting kan kamarnya bersih dan bisa bobok nyaman setelah seharian jalan kaki.

Oya, buat yang bawa BB atau laptop, bilang saja ke pemiliknya yang fasih bahasa Indonesia. "Om, ada WiFi, enggak?" nanti Anda akan langsung dikasih pin WiFi gratis. Fasilitas lainnya, so pasti air hangat, TV, dan AC. Soal harga bisa dilakukan tawar-menawar dan yang pasti murah. Satu lagi, karena harganya murah, penginapan ini sering kali penuh. Jadi, sebaiknya pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Alamat: Asia Travel House, Flat 12a/Flat 5, 5th Floor, Alhambra Building, 385 Nathan Road, Kowloon, Hongkong. Telepon (852) 2770 8300. Hubungi Om Matian atau Martyn atau Wong Kam Fan.

Pasar jalanan di Hongkong Kowloon. Banyak pasar di jalanan di Hongkong Kowloon. Kebetulan yang sempat kami kunjungi adalah Temple Street di belakang penginapan kami di Nathan Road di kawasan Jordan dan Ladies Market di Mong Kok (kalau enggak salah masih di balik Nathan Road deh. Nathan Road ini panjang sekali). Tipe pasarnya sama, yaitu menggunakan seluruh badan jalan.

Sejak pukul 18.00, kendaraan sudah enggak boleh masuk lagi. Yang tersisa hanya jubelan manusia dengan lapak-lapak pedagang yang dinaungi lampu warna-warni. Mayoritas yang datang kemari adalah remaja dan para turis. Kalau ada orang tua Hongkong, mungkin dia pedagang he-he-he.... Mereka di sini berjualan mulai dari pakaian, makanan, mainan, sampai souvenir bertuliskan Hongkong. Yang membedakan Temple Street dan Ladies Market mungkin hanya kalau di Mong Kok (Ladies Market) ada pusat elektronik yang murah meriah kalau bisa menawar. Mirip-mirip Harco Mangga Dua, Jakarta, tetapi ya lebih murah dari Mangga Dua-lah....

Oya, tips kalau ke sini, mesti pandai menawar. Kadang di beberapa kios, harga bisa ditawar sampai separuh bahkan lebih. Seusai menawar dan harga sepakat, jangan bayar dulu, tetapi periksa barang yang Anda beli. Baru kalau sudah cocok, dibayar.

Kadang, ada juga pedagang nakal. Seperti pengalaman Tina dalam membeli kaus. Dia minta kaus ukuran M, ditukar dengan L. Setelah ditunggu 10 menitan, datang juga kaus dengan stiker L. Namun, begitu sampai penginapan, ya ampuuun ha-ha-ha... kami semua lantas terbahak-bahak. Stiker hanyalah stiker yang ditumpuk di bawah stiker bertuliskan M. Ha-ha-ha-ha....

Ada tips lain juga. Kalau Anda berniat untuk datang ke Guang Zhou setelah dari Hongkong sini, sebaiknya urungkan niat Anda untuk berbelanja terlalu banyak. Mayoritas barang yang ada di pasar jalanan ini adalah barang yang kalau kita beli di Guang Zhou pasti lebih murah. Namun, kalau Anda butuh souvenir bertuliskan Hongkong, ya beli di sini he-he-he…. karena kalau belinya di tempat wisata harganya bisa mahal banget. Kalau di sini, meski mahal, bisa ditawar dan kita bisa dapat setengah dari harga yang dijual di tempat wisata.

Tipe makanan di Hongkong. Mungkin ini yang paling menyebalkan bagi saya selama di Hongkong. Aduuh, makanannya semua serba mengilat klimis alias berminyak. Nasi goreng saja sampai berkilau, coba bayangkan. Bebek asap juga minyaknya ke mana-mana, bahkan dim sum yang kukusan pun tampak bak permata (kinclong boooo). Aduuuh....

Enggak tahu saya makan salah tempat atau gimana, tapi selama 3 hari, saya hanya menemukan makanan enggak berminyak dua kali. Itu pun di Hongkong Island yang merupakan restoran lokal Hongkong dan satu lagi di Lantau Island, saat makan di food court yang menjual makanan khas Taiwan. Oya, waktu di resto bernama Tsui Wah yang menjual makanan lokal Hongkong di kawasan Causeway Bay, Hongkong Island, Anvin yang sedang flu ingin sekali makan sesuatu yang berkuah hangat. Dia pilih menu sup seafood. Ternyata waktu keluar, kuahnya mirip "jangan asem surabaya". Pas dicoba, rasanya asli rasa jangan asem ha-ha-ha... cuma beda isi.

Kalau jangan asem surabaya isinya sayur-mayur, maka kalau di sini isinya udang, ikan, cumi, dan aneka hewan laut lainnya he-he-he…. Anvin, teman, pun cuma komentar, "Salah makan terus di Hongkong iki." Mungkin nanti jika Anda melancong ke Hongkong tanpa tour guide seperti kami, kata-kata tersebut juga pasti akan sering terlontar. So, be happy, be seru aja.

Setelah dipikir-pikir, mungkin minyak memang kebutuhan badan orang yang tinggal di Hongkong. Di sini kan udaranya sejuk dan berangin, jadi badan perlu dihangatkan. Caranya? Ya, dengan minyak di makanan. Toh, buktinya saya enggak melihat orang gemuk kan di sini, meski mereka makannya minyak. Orang-orang tua juga sehat-sehat. So, nikmati aja kalau ke sini. Toh kawan kami, Ailen, yang sekolah di sini, juga akhirnya terbiasa, bahkan cenderung suka.

Oya, sekadar kasih tahu aja. Enggak tahu kebetulan atau memang begini adanya, tiga kali memesan makanan berdaging sapi, rasa sapinya kenyal sekali dan berminyak. Saya tidak suka. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk selalu memesan ayam.

Namun ada satu hal yang sama di Makau dan Hongkong soal makan di resto. Kita selalu diberi minuman teh pahit hangat setiap kami memesan makanan. Jadi, tinggal bayar makanannya saja, minumannya tetap teh pahit, he-he-hee.… Soalnya teh ini kan juga berfungsi untuk meluruhkan lemak yang sudah termakan tadi. Jadi saran saya, mending enggak usah pesan minuman lain. Mungkin ini juga jadi salah satu alasan kenapa di Makau dan Hongkong, saya tidak melihat orang gemuk di jalanan. Ya, selain ke mana-mana jalan kaki, minumnya juga teh pahit china.

Inilah tips bagi Anda untuk mengatasi rasa mual dari hidangan yang berminyak ini. Beginilah cara makan orang Hongkong, setelah beberapa sendok langsung minum dengan teh panas yang selalu disediakan gratis oleh rumah makan. So please, buat yang belum terbiasa, tidak usah memesan minuman selain teh hangat. Karena minuman gratisan ini adalah senjata paling ampuh yang dapat meluruhkan lemak minyak dari kerongkongan Anda.

Oya, seperti di Makau juga, masalah mencari sarapan di Hongkong juga bukan perkara mudah. Kota ini masih hidup hingga hampir subuh. Praktis, pagi hari kota masih sepi. Makanan yang ada paling-paling roti dan bubur, paling bagus mi. Daftar menunya pun pakai bahasa mandarin semua. Namun keuntungan di Hongkong, mereka masih bisa bahasa Inggris, meski enggak semua.

Harga makanan di Makau dan Hongkong hampir sama. Rata-rata makanan bernasi 25-35 dollar Hongkong. Yang menyenangkan di Hongkong dan Makau pula, harga makanan di mana saja sama, tidak peduli di mal, di kedai, di tempat wisata, semua harga sama. Yang membedakan harga hanya apakah resto besar atau resto kecil.

Beda sama di Indonesia yang kalau sudah masuk tempat wisata, harga air mineral saja mahal banget. Kalau di sini enggak, semua harga di semua tempat rata-rata sama. So, kalau mau berwisata, enggak usah bawa botol air mineral berat-berat, toh harganya sama.

Nah, kalau Anda datang kemari, bisa lebih pusing lagi nih. Kalau di Kowloon kan jalanan kecil-kecil, jadi tidak terlihat betapa padatnya (pantas padat, wong jalanannya kecil). Sementara itu, di Causeway Bay, jalanannya besar dan orangnya banyak. Causeway Bay sendiri merupakan distrik terpopuler bagi kalangan TKW he-he-he.... Saya sebut demikian karena di sini memang TKW Indonesia mendominasi pekerja asing lainnya. Hampir tiap berapa puluh meter saya mendengar orang Indonesia tengah berbicara. Namun, keadaan ini mungkin hanya akan Anda jumpai saat hari Minggu, hari ketika mereka libur. Kalau hari biasa mungkin lebih sedikit.

Makanan di Causeway Bay ini juga lebih ramah ke lidah saya ketimbang di Hongkong Kowloon. Di sinilah saya menemukan resto lokal yang tak berminyak. Dengar-dengar sih di sini juga banyak sekali resto Indonesia. Namun karena kami buru-buru kejar waktu karena masih banyak tempat yang mesti dijajaki, kami tak sempat mencari di mana lokasinya. Mungkin kalau Anda ke sana bisa ditanyakan kepada para TKW yang berseliweran.

Causeway Bay sendiri merupakan pusat perbelanjaan di Hongkong Island (dari Kowloon bisa ditempuh dengan feri di kawasan Avenue of Stars, Tsim Sha Tsui). Anda bisa juga menggunakan MTR, tetapi lebih mahal. Memang, lebih cepat jika naik MTR. Namun, saya disarankan oleh kawan-kawan, sebagai wisatawan, kita lebih baik menggunakan feri yang harganya tak mencapai 2 dollar Hongkong untuk penyeberangan sekitar 15 menit. Kita bisa lihat-lihat pemandangan Hongkong dari pulau ke pulau.

Di Causeway Bay sendiri isinya seperti mal di Indonesia, tetapi dengan harga lebih murah. Di sana ada Sogo, Giordano, dan tempat-tempat perbelanjaan seperti di mal Surabaya dan Jakarta. Beberapa tempat juga seperti Pasar Atoom, Surabaya. Pokoknya waktu saya ke sana, kesan saya yang tak suka belanja adalah, "Kok saya enggak merasa berada di Hongkong ya?" Begitu pula kesan Anvin he-he-he.... Soalnya memang Indonesia banget, apalagi ditambah dengan suara-suara berbahasa Indonesia berlogat Jawa.

Enggak cuma TKW saja, tetapi kita juga banyak ketemu sama tante-tante berlogat asli Surabaya yang lagi belanja. Astaga, tante-tantenya banyak pisan yah. Mungkin karena emang harga barang-barangnya lebih murah dari Jakarta dan Surabaya sih ya. Kualitas juga sama. Barang Hongkong biasanya bagus atau KW1. Hongkong memang surganya belanja. (Catur Guna Yuyun Angkadjaja)


Editor : I Made Asdhiana
Sumber: