Sabtu, 1 November 2014

News /

MENTAWAI

Pengungsi Sulit Mengakses Pelayanan Kesehatan

Rabu, 9 Februari 2011 | 04:23 WIB

Mentawai, Kompas - Para pengungsi di Pulau Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, sulit mengakses pelayanan kesehatan. Di sejumlah titik pengungsian kini merebak campak pada anak.

Puskesmas terdekat berada di Sikakap, Pulau Pagai Utara. Untuk menuju ke sana, warga menempuh perjalanan darat sejauh 32-40 kilometer, lalu menyeberang ke Sikakap dengan perahu kecil.

Karena itu, warga memilih berobat di Posko Induk Palang Merah Indonesia (PMI) di Minas, Pagai Selatan, atau menunggu klinik keliling PMI datang ke lokasi pengungsian. Namun, pelayanan kesehatan PMI kini berhenti. Organisasi kemanusiaan itu kekurangan dokter sehingga klinik keliling PMI tidak lagi mendatangi lokasi pengungsian.

”Lima hari lalu, dua dokter dan dua perawat pulang ke Padang,” kata Engla, seorang perawat di Posko Induk PMI di Minas, Senin. Sebagai perawat, Engla tidak berwenang mendiagnosa dan memberi resep kepada pengungsi yang sakit. ”Obat yang saya berikan paling-paling obat demam atau obat sakit kepala,” katanya.

Triani Haripujiastuti, staf subbidang pelayanan kesehatan dan sosial PMI Sumbar, mengatakan, pelayanan kesehatan di Mentawai awalnya untuk keperluan sukarelawan PMI yang membangun hunian sementara bagi warga yang direlokasi. Namun, warga Pagai Selatan, termasuk pengungsi, memilih berobat ke posko daripada ke Puskesmas Sikakap.

Posko Induk PMI yang berlokasi di Minas mendapati 27 anak, usia 2-8 tahun, terkena campak. ”Kami langsung merujuk pasien ke Puskesmas Sikakap,” kata Engla.

Dari pengamatan Kompas, kondisi sanitasi di pengungsian di Pagai Selatan memprihatinkan. Meski ada tempat mandi, cuci, kakus yang dibangun lembaga swadaya masyarakat, pengungsi kesulitan air bersih.

”Di sini tidak bisa digali sumur karena tanahnya berkapur. Untuk mendapatkan air, kami harus mengambil dari sungai berjarak 1,5 kilometer,” kata Januarius, Kepala Dusun Konik, yang ikut mengurusi pengungsi.

Menurut Rinto, warga yang direlokasi di Km 37 Pagai Selatan, sejak satu bulan lalu mereka tidak mendapat bantuan makanan dari pemerintah. Padahal, warga yang direlokasi harus mulai dari awal menanam coklat, pisang, dan nilam. Pisang baru bisa dipanen setelah 8 bulan, nilam 4-8 bulan, dan panen kopi lebih lama lagi.

Terkait kejadian luar biasa campak pada korban bencana Mentawai, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, Selasa, menyatakan, pekan lalu pihaknya mengirim tim bersama Dinas Kesehatan Sumbar untuk melakukan pengobatan serta survei. Berdasarkan survei, logistik dikirimkan. Hari Selasa tim kedua berangkat untuk melakukan imunisasi massal.

Hal serupa dinyatakan Kepala Dinkes Sumbar Rosnini Savitri. Empat tim kesehatan yang terdiri dari 30 tenaga kesehatan, delapan di antaranya dokter, bekerja sama dengan TNI, disebar ke sejumlah titik pengungsian dan pembangunan hunian sementara di Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan. Mereka akan melakukan imunisasi massal mulai Rabu (9/2) selama delapan hari.

Pembantu Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, Afriwardi, menyatakan, pihaknya selama ini telah memberangkatkan empat tim untuk misi kemanusiaan ke Mentawai bekerja sama dengan Dinkes, IDI, PMI, serta RSU M Djamil. Jika diperlukan, timnya siap berangkat. (IND/INK/ATK)


Editor :