Jumat, 25 April 2014

News / News & Features

Pengaturan Diet Kurangi Gejala ADHD

Senin, 7 Februari 2011 | 09:53 WIB

Baca juga

Kompas.com - Pengaturan pola makan dengan menghindari makanan olahan pada anak hiperaktif atau attention deficit hiperactive disorder (ADHD) selama 5 minggu ternyata bisa mengurangi gejala-gejala ADHD.

ADHD ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk memusatkan perhatian, impulsif dan hiperaktif. Penyebabnya bisa genetis atau cedera otak. Biasanya anak ADHD tidak bisa duduk diam, terus bergerak, daya ingat kurang, suka memotong pembicaraan dan tidak fokus.

Para orangtua sejak lama mencurigai makanan bergula sebagai pencetus gejala hiperaktif, namun tidak banyak bukti ilmiah yang mendukung teori tersebut. Akan tetapi, dugaan lebih kuat adalah pada makanan berpengawet dan diberi zat perasa meski penelitian belum menyimpulkan secara resmi.

Terlebih beberapa anak ADHD langsung memberikan efek setelah mengonsumsi jenis makanan tersebut, antara lain timbul gejala asma, gangguan pencernaan, serta eksim. Makanan berpengawet serta mengandung zat perasa itu diduga juga akan berpengaruh pada otak mereka sehingga memengaruhi perilaku anak.

Untuk menguji teori ini, para ahli dari Belgia dan Belanda melibatkan 100 anak berusia 4-8 tahun yang didiagnosa menderita ADHD. Mayoritas adalah anak laki-laki.

Anak-anak itu secara acak dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diberi pengaturan pola makan yang ketat sedangkan kelompok lain sebagai kelompok kontrol hanya menerima saran pola makan sehat.

Anak-anak dari kelompok pertama hanya diperbolehkan makan nasi, daging, sayuran, alpukat dan air. Pola makan ini dilengkapi dengan kentang, buah-buahan dan gandum. Pola makan ini dijalankan selama lima minggu.

Pada minggu kelima, anak-anak di kelompok tersebut mendapatkan dua jenis makanan baru yang dikategorikan makanan dengan IgG rendah dan tinggi.

IgG adalah antibodi yang dibuat oleh sistem imun tubuh dan dipercaya terkait dengan hipersentivitas pada makanan atau pencetus alergi. Beberapa pakar menyarankan untuk menghindari makanan dengan kadar IgG tinggi.

Sekitar 51 anak berhasil melalui pengaturan pola makan ini dan 78 persen mengalami penurunan gejala ADHD, dibandingkan dengan tidak adanya perbaikan pada anak dari kelompok kontrol.

Akan tetapi pada anak yang dicoba untuk mengonsumsi makanan dengan IgG rendah atau tinggi tidak ada perbedaan. Dengan kata lain kadar IgG pada makanan tidak berpengaruh pada perilaku anak.

"Jika orangtua melihat perilaku anak memburuk setelah mengonsumsi jenis makanan tertentu, lebih baik pertimbangkan untuk menghindarinya," kata Dr.Jaswinder Ghuman, dokter anak dari University of Arizona.


Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: