Rabu, 16 April 2014

News / Nasional

Melihat Kerusuhan Jakarta '98 dari Kairo

Selasa, 1 Februari 2011 | 08:52 WIB

Baca juga

KOMPAS.com — Ketika Jakarta diporakporandakan orang-orang tak dikenal dan menjadi lautan api pada Mei 1998, Presiden Soeharto dan rombongannya, termasuk sekelompok wartawan, berada di Kairo, ibu kota Mesir.

Presiden Soeharto bersama rombongan resminya menginap di Hotel Sheraton Heliopolis. Para wartawan di Soneta Hotel, penginapan resmi bagi seluruh wartawan peliput acara Konferensi Tingkat Tinggi 15 negara Gerakan Nonblok.

Sabtu malam Minggu (9 Mei 1998), sejumlah wartawan menonton tari perut di rumah makan di kapal yang berlayar di Sungai Nil. Menurut Damanhuri, wartawan dari sebuah surat kabar di Jakarta, penari perutnya bernama Saudah.

Sementara itu, tiga wartawan lainnya, yakni dari Kompas, Antara, dan Suara Pembaruan, tinggal di hotel dan makan malam di sebuah kafe di hotel itu. Ketika itu seorang pramusaji mendekati wartawan Indonesia dan bertanya, ”Saya dengar Pak Harto itu orang terkaya di dunia dan kekayaannya disimpan di Swiss.” Wartawan kantor berita Antara menjawab, ”Mungkin begitu.”

Senin (11/5/1998), KTT G-15 yang dihadiri Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Madeleine Albright dibuka oleh Presiden Mesir Hosni Mubarak. Para wartawan dari berbagai negara lain selalu bertanya soal gelombang aksi unjuk rasa di Jakarta kepada beberapa wartawan Indonesia. Seorang wartawan Jepang dengan sinis berkomentar, ”Bagaimana mungkin kalian bisa datang ke sini, sementara negeri sedang krisis.”

Selasa (12/5/1998), Soeharto mengikuti pertemuan tertutup KTT G-15 di luar Kairo. Sementara itu, televisi sedang menayangkan aksi unjuk rasa di dekat Universitas Trisakti, Jakarta, termasuk penembakan para mahasiswa. Kemudian kerusuhan dan penjarahan terjadi.

Rabu (13/5/1998) malam, Soeharto bicara tentang kelengserannya di gedung kedutaan Indonesia di Mesir. Di Jakarta ribuan mahasiswa turun ke jalan menuntut Soeharto mundur dari kursi presiden.

Kamis (14/5/1998) pagi Soeharto memutuskan pulang ke Jakarta. Mubarak datang ke hotel menemui Soeharto sebelum terbang. Saat Mubarak masuk pintu hotel, puluhan perempuan cantik yang berjajar sebagai pagar ayu bertepuk tangan menyambutnya.

Ketika pesawat Soeharto sampai di atas Jakarta, Jumat dini hari, kota terlihat merah membara. Kemudian Soeharto lengser dan diganti BJ Habibie.

Kini, tiga belas tahun setelah itu, situasi Jakarta di tahun 1998 seperti berpindah ke Mesir. Giliran negeri itu dilanda kerusuhan politik. Mubarak yang berkuasa selama 30 tahun didemo jutaan masyarakat Mesir yang menuntutnya lengser. Akankah sejarah Indonesia berulang di sana? (J OSDAR)


Editor : Heru Margianto
Sumber: