Minggu, 26 Oktober 2014

News / Nasional

Tajuk Rencana "Kompas"

Untung Ada Sepak Bola

Jumat, 17 Desember 2010 | 08:35 WIB

Terkait

Syukurlah ada sepak bola. Sepak bolalah yang menjadi penyelamat sekaligus penyemangat, penghiburan sekaligus pengharapan.

Sepak bola memberikan hiburan kepada kita yang akhir-akhir ini dibelit berbagai persoalan. Persoalan politik yang penuh intrik dan ruwet, bencana yang silih berganti, korupsi yang tiada habis-habisnya, harga-harga kebutuhan pokok yang tak terkendali terus naik, akrobat dan drama politik yang memperbodoh kita, perang pernyataan yang tidak bijaksana, dan masih banyak lagi yang membuat kita semua terbelenggu dan kelu.

Karena itu, hanya harapan yang pantas diungkapkan kali ini: semoga hiburan itu, sepak bola, dapat sejenak mengistirahatkan kita dari segala kepenatan dan beban hidup yang akhir-akhir ini banyak kita derita, dan lelah.

Kita, rakyat, memang lelah. Ibarat orang jalan, kita semua sudah jalan begitu jauh, di jalan yang rusak dan naik turun, tanpa sekali pun istirahat untuk minum. Karena itu, butuh sesuatu yang menyegarkan. Butuh sesuatu yang menyegarkan seperti yang diinginkan ribuan penonton sepak bola yang rela berpanas-panas selama berjam-jam untuk mendapatkan tiket menonton pertandingan antara Indonesia dan Filipina.

Dalam sejarah, ”Indonesia” pernah tampil di Piala Dunia 1938 (Perancis), atas nama Dutch East Indies (Hindia Belanda). Timnas waktu itu ditaklukkan Hongaria, 0-6. Dengan sistem gugur, mereka angkat koper. Namun, kita tetap boleh bangga, timnas dikalahkan tim yang menjadi runner-up! Kini kita menunggu prestasi PSSI.

Melihat begitu antusiasnya masyarakat memberikan dukungan kepada kesebelasan kita, ini membuktikan bahwa sepak bola bermanfaat bagi terapi membangkitkan kembali semangat nasionalisme. Sementara itu, para pemain bersemangat untuk mempersembahkan kemenangan bagi negara. Tentu ini berkaitan dengan identitas negara dan nasionalisme.

Kita juga berharap mampu membangun sikap nasionalisme di bidang ekonomi, politik, pertahanan keamanan, serta pendidikan, dan bidang-bidang lain.

Kemenangan di babak semifinal ini memberikan optimisme. Tidak lebih tidak kurang, kita ingin menang. Optimistis, tetapi kita juga harus realistis, yakni menggantungkan dan meletakkan cita-cita setinggi langit, tetapi tetap sadar akan keterbatasan, akan kekurangan dalam tubuh PSSI, dalam sistem kompetisi kita. Pendek kata dalam tubuh dunia persepakbolaan kita.

Di atas segalanya, sepak bola adalah hiburan dan kegembiraan. Marilah sesaat kita melupakan keruwetan hidup. Akan tetapi, jangan sampai karena sepak bola, kita terlena dari persoalan fundamental yang menjadi beban bangsa dan negara ini: beban rakyat.

Meskipun, secara jujur harus kita akui, kita saat ini membutuhkan katakanlah semacam oase yang menyegarkan.


Editor : Heru Margianto
Sumber: