Rabu, 26 November 2014

News / Nasional

Terorisme

Abu Tholut, Gembong Teroris Berbahaya

Jumat, 10 Desember 2010 | 11:27 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Pasukan Densus 88 Antiteror Polri berhasil membekuk gembong teroris berbahaya, Abu Tholut, di Kudus, Jawa Tengah, Jumat (10/12/2010). Belum ada keterangan resmi dari kepolisian terkait penangkapan ini.

Siapa Abu Tholut? Mantan Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, dalam sebuah jumpa pers saat masih memimpin Polri, menyebut Abu Tholut sebagai tokoh teroris berbahaya. Selain Abu Tholut, tokoh teroris berbahaya yang lain adalah Taufik Hidayat, Iwan, Jefri alias Kamal, dan Alex Cecep Gunawan. Mereka berada di urutan teratas daftar pencarian orang (DPO) atau buronan Mabes Polri.

Abu Tholut terlibat dalam sejumlah rangkaian terorisme dan aksi kriminal lain di Tanah Air. Ia pernah ditangkap polisi terkait aksi bom Atrium Senen pada 1 Agustus 2001. Ia mendapat remisi. Namun, bukannya "bertobat", ia malah terlibat dalam perampokan Bank CIMB Niaga pada 18 Agustus 2010. Bambang menyebut Abu Tholut sebagai pengatur dan penggerak rangkaian terorisme.

"Ia memiliki kemampuan khusus. Eks Komandan Askari Jama'ah Islamiyah, alumnus pelatihan di Afganistan, mendirikan kamp di Filipina selatan, dan melaksanakan latihan militer di Aceh," tutur Bambang.

Selanjutnya, Taufik Hidayat diduga terlibat dalam pembunuhan Brigadir Simanjuntak, merampas senjata, dan memimpin perampokan Bank CIMB Niaga. Taufik, kata Bambang, masih memegang senjata M-16 yang dirampas dari anggota Brimob.

Jefri alias Kamal, kelahiran Depok, menurut Bambang, adalah eks narapidana dalam pembuatan bom di Cimanggis. Ia juga ikut memfasilitasi pelatihan militer di Aceh dan terlibat langsung dalam perampokan di Sumatera Utara.

Kemudian yang masuk dalam DPO penting adalah Alex Cecep Gunawan. Ia merupakan eks veteran dari kelompok Poso dan menjadi jaringan radikal dari Jawa Tengah. Alex juga tercatat ikut melakukan perampokan di Sumatera Utara. Ambil alih kekuasaan

Aksi terorisme di Indonesia bukanlah aksi sporadis kriminal semata. Bambang mengungkapkan, aksi kelompok teroris yang dilakukan sejak tahun 2000 hingga kasus terakhir penembakan tiga polisi di Markas Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, tahun 2010, memiliki target mengambil alih kekuasaan negara.

Bambang menjelaskan, tersangka teroris menganggap perampokan yang dilakukannya terhadap bank sebagai perampokan terhadap harta benda milik orang kafir (fa'i). Dengan dana itu, mereka membiayai kegiatan terorisme, yaitu membangun kekuatan militer, melakukan latihan, serta membeli senjata api dan bahan peledak.

Secara bersamaan, lanjut dia, kelompok teroris juga melakukan pembunuhan secara diam-diam dengan sasaran tertentu atau selektif, seperti target polisi yang berjaga di kantor polisi. Dengan aksi perampokan dan pembunuhan itu, teroris menginginkan agar masyarakat menjadi panik dan takut.

Dengan kepanikan di masyarakat, menurut Bambang, terjadi kondisi chaos sehingga legitimasi pemerintah bisa lemah. Dengan kondisi itu, kelompok teroris akan terus melakukan gerilya dan serangan terhadap pos-pos TNI dan Polri yang dianggap lengah.

"Ini bukan karangan atau prediksi, tetapi konsep strategis yang mereka siapkan," katanya.


Editor : Heru Margianto