Jumat, 31 Oktober 2014

News /

TAJUK RENCANA

Senin, 11 Oktober 2010 | 03:09 WIB

Implikasi Perubahan Cuaca

Jumlah korban banjir Wasior, Papua Barat, terus bertambah. Sejauh ini tercatat 124 korban tewas, 123 orang hilang, 181 luka berat, dan 2.600 luka ringan.

Dari televisi kita saksikan ganasnya banjir, hilir mudiknya pengungsi, hadirnya batang pohon yang terbawa arus. Luar biasa bencana alam itu, sampai-sampai secara cepat mengundang pernyataan simpati Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton. Serentak ditunjukkan lagi betapa pada zaman multimedia ini musibah di belahan dunia mana pun serentak menjadi peristiwa dunia.

Bukan saja perhatian, pertolongan dan bantuan pun serentak menyusul. Segera terhimpun perhatian dari ahli yang memberikan interpretasi munculnya banjir. Banjir melulu dari curah hujan atau banjir yang dibuat lebih parah oleh ulah manusia mengolah lingkungan.

Peranan cuaca dan perubahannya jelas. Jelas pula dahsyatnya akibat banjir yang disebabkan perubahan cuaca. Bencana itu mengundang perhatian untuk mendalami perubahan tersebut. Sungguh tepat lagi aktual peringatan ahli dan lembaga pemerintah perihal hadirnya perubahan iklim yang baru dan serentak.

Kita tidak lagi hidup dalam dua cuaca, musim hujan dan musim kemarau. Pergantian musim yang menyimpang dari pola selama ini sekurang-kurangnya belum juga dapat dipastikan waktunya. Diperlukan waktu untuk mengamati, menyelami lebih jauh, serta mengambil kesimpulan yang lebih pasti. Kita dihadapkan pada pola baru yang belum menentu perihal hubungan kita dengan alam. Kita tegaskan lagi mutlaknya sumbangan ahli, pengalaman bangsa lain, serta kebijakan pemerintah.

Kita ingat ungkapan yang menegaskan hidup itu adalah challenge and response, tantangan dan jawaban. Sejauh ini sudah kita saksikan sikap hidup bangsa-bangsa dalam negara yang berempat musim dan dua musim. Masuk akal jika hidup dalam empat musim memerlukan kecekatan dan kecepatan dibandingkan hidup dalam dua musim. Kita, Indonesia, dan bangsa sekawasan kini hidup dalam perubahan. Perubahan belum selesai dan berpola tetap, tetapi perubahan harus kita cermati. Perubahan itu sudah harus merupakan tantangan, bagaimana kita menyikapinya.

Tidaklah mungkin kiranya kita, misalnya, bersikap acuh dan pasif. Ada tantangan baru, maka harus pula ada jawaban baru. Jawaban baru itu marilah kita siapkan, kita pelajari, dan kita terapkan. Dari pendidikan di sekolah dasar sampai universitas, sikap baru yang dituntut perubahan cuaca wajib diperkenalkan sekaligus, misalnya dalam mata pelajaran mengenal tanah air, mengenal perubahan cuaca, memahami implikasinya, serta sikap baru yang diperlukan.

Sikap yang bisa menimbulkan salah paham seperti ”pelan-pelan yang penting selamat” (alon-alon waton kelakon) barangkali perlu diubah menjadi sikap cekatan. Dari perubahan alam seperti yang di antaranya berlangsung dalam perubahan cuaca, kita harus mengambil pelajaran dan melakukan perubahan sikap.

Pesan Nobel Perdamaian

enganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian 2010 kepada Liu Xiaobo mengirimkan pesan yang jelas dan tegas kepada Pemerintah China.

Pesan itu adalah kemajuan di bidang ekonomi yang memberikan kemakmuran harus dibarengi atau diimbangi dengan kemajuan pula di bidang politik, demokrasi, penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia. Apalah artinya makmur kalau kemanusiaan manusia kurang dihargai.

Liu Xiaobo, yang sekarang meringkuk di sebuah sel di sebuah kota, 500 kilometer dari Beijing, adalah seorang pejuang hak-hak asasi manusia. Ia menjadi orang ketiga yang ketika menerima Hadiah Nobel Perdamaian sedang dipenjara oleh pemerintahnya. Dua tokoh lainnya adalah pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi (1991), dan Carl von Ossietzky (1935).

Keputusan Komite Nobel Norwegia menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Liu Xiaobo adalah sebuah pengakuan ”terhadap perjuangan panjang dan tanpa kekerasan bagi tegaknya hak-hak asasi manusia yang fundamental di China”.

Secara tidak langsung, Hadiah Nobel Perdamaian yang diterima Liu Xiaobo ini juga adalah Hadiah Nobel Perdamaian untuk rakyat Tibet, Xinjiang, dan juga kelompok minoritas lainnya di China, yang kurang bisa menikmati nilai-nilai kebebasan sebagai manusia yang bebas.

Karena itu, sangat masuk akal kalau Pemerintah China tidak senang terhadap keputusan Komite Nobel Norwegia. Bahkan, seperti tersiar di berbagai media, Kementerian Luar Negeri China menyebut penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Liu Xiaobo itu sebagai ”penodaan” terhadap Hadiah Nobel Perdamaian.

Bahkan, Liu Xiaobo disebut sebagai ”seorang penjahat yang telah dihukum karena melanggar hukum China”. Apakah itu berarti Komite Nobel bertindak salah? Liu Xiaobo telah menjadi simbol terkemuka dalam perjuangan menegakkan hak-hak asasi manusia di China.

Lewat dokumen yang disebut Charter 08, Liu Xiaobo menyerukan perlunya reformasi konstitusional secara bertahap di China. Apa yang diserukan Liu Xiaobo itu mendatangkan dukungan. Semula ada 300 penanda tangan pendukung dokumen itu dan ketika dilempar ke internet membengkak menjadi 10.000 penanda tangan yang sebagian besar adalah para intelektual. Memang, para intelektual penanda tangan itu tidak merepresentasikan rakyat China yang lebih dari satu miliar. Akan tetapi, China kaya akan reformasi politik yang dipimpin kaum elite.

Pada akhirnya, seperti kalimat yang mengawali tulisan pendek ini, pesan dari Nobel yang diterima Liu Xiaobo sangat jelas dan tegas: reformasi ekonomi harus disertai reformasi politik sebab jika tanpa disertai reformasi politik yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan, keberhasilan di sektor ekonomi akan kehilangan maknanya.


Editor :