Senin, 24 November 2014

News / Nasional

Sidang Perkara Gayus

Hakim Ragukan Kesaksian Sri Sumartini

Senin, 4 Oktober 2010 | 14:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Majelis hakim yang menyidangkan kasus terdakwa Gayus Halomoan Tambunan meragukan kesaksian AKP Sri Sumartini alias Tini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (4/10/2010) ini.

Pasalnya, Tini banyak mengaku tidak tahu ketika dicecar majelis hakim seputar proses penyidikan kasus Gayus tahun 2009. Awalnya, Ketua Majelis Hakim Albertina Ho menanyakan soal pemeriksaan Gayus. Tini mengakui pernah ikut saat Gayus diperiksa di Bareskrim Polri dan dua kali di Hotel Manhattan, Jakarta Selatan. Namun, Tini mengaku tidak tahu-menahu soal pemeriksaan di hotel itu. "Saya hanya diminta Arafat bikin minum teh dan kopi. Karena tidak ada tugas yang diberikan, saya pulang," jelas dia.

Tini pun mengaku tidak tahu-menahu soal pembicaraan untuk merekayasa asal-usul uang Rp 28 miliar yang diblokir penyidik Bareskrim Polri. Uang itu diklaim hasil kerja sama pengadaan tanah di Jakarta Utara antara Gayus dan Andi Kosasih. Menurut Tini, ia hanya membuat surat tanda terima penyerahan kuitansi soal kerja sama dari Andi ke penyidik Bareskrim.

Ketika ditanya apakah perjanjian yang dia terima itu terkait uang Rp 28 miliar, Tini mengaku tidak tahu.

"Siapa yang buat perjanjian itu?" tanya Albertina.

"Tidak tahu," jawab Tini.

"Kapan itu dibuat?" timpal Albertina.

"Tidak tahu," jawab Tini.

"Saudara banyak tidak tahu ya. Hanya tahu buat teh dan kopi," sindir Albertina.

Tini kemudian mengaku tidak tahu-menahu soal pembukaan blokir Rp 28 miliar oleh penyidik Bareskrim Polri. Tini mengaku baru tahu jika blokir dibuka setelah ia ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik tim independen.

"Kenapa blokir rekening dibuka?" tanya Albertina.

"Itu urusan pimpinan," jawab Tini.

Selanjutnya, Tini mengaku tidak tahu pasal apa yang dikenakan ke Gayus saat proses di Pengadilan Negeri Tangerang. Dia mengaku tidak mengikuti sidang hingga vonis Gayus. Menurut dia, yang harus mengikuti proses persidangan yakni Arafat. Albertina kembali menyidir Tini. "Banyak sekali yang saudara tidak tahu," kata hakim.

Setelah itu, Tini mengaku tidak pernah menerima uang dari Haposan atau Gayus selama proses penyidikan.

"Sama sekali tidak pernah?" tanya Albertina.

"Tidak," jawab Tini.

"Jadi lebih aneh lagi saudara ada di sini (jadi terdakwa)," kata Albertina.

Terkait pernyataan hakim, Tini lalu menjawab, "Saya ditahan tidak ada alat bukti satu pun." Albertina lalu menjawab, "Kalau begitu mudah-mudahan saudara bisa dibebaskan. Tapi kalau nanti saudara divonis terbukti dan diproses keterangan palsu, ancaman hukuman tidak lama, hanya tujuh tahun."


Editor : Glori K. Wadrianto