Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 16:24 WIB
Baticube, Napas Batik pada "T-Shirt"
| Selasa, 14 September 2010 | 02:52 WIB
|
Share:

Salah satu peserta UI Industry Creative Expo atau UI Crax yang digelar pada akhir Juli lalu adalah Baticube. Mereka menggelar dagangan T-shirt beraksen batik.

Aksen batik ini berupa potongan batik asli yang bentuknya bermacam-macam, misalnya bentuk dasi, tanda seru, bentuk kubik, dan berbagai macam bentuk yang tak terbatas. Potongan batik itu dijahit ke T-shirt yang bahannya lembut sehingga antara T-shirt dan potongan batik seolah menyatu secara baik. Jika dipakai, T-shirt itu tampak unik dan tetap memancarkan aura batik.

”Kami memakai potongan batik asli, yang diproses secara batik, bukan batik printing karena menurut kami batik itu selain berupa karya kain juga dilihat dari proses membuatnya,” kata Alfira Fitrananda, salah satu pendiri Baticube.

Hingga kini, Baticube tak berani menggunakan materi batik printing karena misinya adalah memperkenalkan uniknya batik kepada kawula muda. Awalnya cukup rumit membuat Baticube karena harus mencari jenis kain T-shirt tertentu yang cocok dengan kain batik.

Baticube kini menjadi perusahaan yang bergerak di bidang industri pakaian batik modifikasi. Para pendiri Baticube adalah lima mahasiswa dari Program Studi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (SI Fasilkom UI).

Mulanya, program Baticube merupakan materi tugas kuliah dari tim Baticube. Anggota tim selain Alfira (angkatan 2008) adalah Alfadesta (2008), Akhmad Rahadian Hutomo (2008), Ahmad Mahmudi Yunus (2008), dan Adzar Karomy (2007).

”Baticube memperkenalkan batik dalam bentuk yang inovatif,” kata Alfadesta.

Batik yang biasanya merupakan pakaian untuk acara formal, di tangan mereka menjadi bagian penuh dari pakaian sehari-hari berkat modifikasi dalam bentuk kaus.

Konsep dasarnya, batik tidak akan menjadi seluruh bagian dari kaus, tetapi disajikan sebagai desain dari kaus itu sendiri dan merepresentasikan berbagai gambar ataupun grafik. Ternyata, konsep ini disukai kawula muda.

Mereka yang enggan mengenakan kemeja batik secara penuh menjadi mau memakai batik yang dimodifikasi dalam bentuk kaus. Jadi, ke kampus dengan batik yang bentuknya kaus pun semakin pede.

”Awalnya, ada teman yang memakai kaus buatan kami di kampus, setelah itu banyak yang bertanya di mana membuatnya,” papar Alfira.

Dengan tujuan memperkenalkan batik kepada generasi muda usia 15-30 tahun, ternyata perkiraan tim Baticube meleset. Banyak orang tua yang ukuran badannya jumbo ikut menanyakan kaus batik dengan ukuran badan L ke atas. Mereka kecewa karena kaus tersebut didominasi ukuran S dan M.

Lewat situs web dan berbagai jejaring sosial di internet, Baticube diseriusi menjadi bisnis clothing yang dikelola para mahasiswa. Baticube pun memenangi penghargaan dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2010 di Bali, kategori presentasi favorit. (Amir Sodikin)

 

Advertorial
»