Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 21:00 WIB
Silaturahim di Istana
Istana Telusuri Tewasnya Tunanetra
Caroline Damanik | Heru Margianto | Jumat, 10 September 2010 | 16:26 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/Caroline DamanikWarga berdesakan di depan pintu gerbang masuk Istana Negara, Jumat (10/9/2010), untuk mengikuti open house Lebaran bersama Presiden SBY dan keluarga.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pihak Istana Negara mengaku tengah menelusuri tewasnya tunanetra dalam insiden desak-desakan di pintu gerbang Istana, Jumat (10/9/2010), saat hendak mengikuti open house Lebaran dengan Presiden dan keluarga. Instruksi untuk menelusuri sudah diturunkan langsung kepada Kapolsek setempat.

"Saya sedang koordinasi, minta Polsek memastikan korban tewas itu. Tapi yang jelas itu kan kerumunan dari pengunjung berdesakan di luar, bukan karena tindakan atau kekerasan yang dilakukan oleh petugas," ungkap Julian kepada wartawan, Jumat sore.

Menurut Julian, frekuensi dibukanya pintu masuk dibatasi. Menurut laporan yang diterimanya, petugas berada di dalam, sedangkan warga berdesakan di luar pagar. Julian mengatakan, pihaknya sudah mengimbau agar masyarakat bisa menahan diri dan tidak saling mendorong dan memaksakan diri untuk masuk ke dalam Istana.

"Saya sempat telepon petugas, apakah mereka bertindak di luar prosedur. Mereka mengatakan berada di dalam. Tapi korban telah kami dengar, kami sedang cek, belum bisa kasih klarifikasi apa pun. Karena kita sedang meneliti apakah keadaannya seperti itu," tambahnya.

Seperti diberitakan, seorang tunanetra tewas dalam insiden desak-desakan di pintu gerbang Istana, Jumat sore. Jhony Malela (45) mati lemas karena tidak kuat berdesakan dengan ratusan warga yang juga menunggu momen open house Lebaran di Istana Negara sekitar pukul 15.15.

"Dia posisinya di depan, trus mau ke belakang, enggak bisa. Kedorong kali ya sama di belakangnya, terus jatuh dan terinjak," kata salah satu petugas Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Theresia Indah Susanti, kepada wartawan, Jumat sore.

Theresia mengatakan, paramedis memiliki kesempatan sekitar 10 menit untuk membawa korban dari kerumunan menuju ambulans untuk diberikan pertolongan dan oksigen.

Sayangnya, pria asal Sulawesi yang tinggal di Cinangka ini sudah keburu mengembuskan napas terakhirnya. Saat ini, jenazah Jhony dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo. Jhony diantar oleh istrinya yang juga tunanetra.