Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 16:23 WIB
'Open House'
Panas Terik, Warga Setia Menunggu
Caroline Damanik | A. Wisnubrata | Jumat, 10 September 2010 | 11:31 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/Caroline DamanikWarga mulai memadati pintu gerbang Istana Negara untuk menanti pembukaan pengambilan kartu masuk ke Istana dalam rangka open house Presiden SBY, Jumat (10/9/2010). Warga menunggu sejak pukul 08.00.

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski panas terik menghiasi langit Jakarta, Jumat (10/9/2010) pagi, tetapi ratusan warga yang sudah memadati pintu gerbang Istana Negara tetap sabar menunggu diizinkan masuk ke kawasan Istana sekitar pukul 14.00 nanti. Mereka ingin bersilaturahim dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan keluarga.

Kesabaran meski dibaluti peluh karena panas yang menyengat juga ada di hati Illa (29). Perempuan tunanetra asal Bandung ini masih setia berdiri di depan gerbang sambil memegang tongkat penunjuk jalannya. "Saya lagi Lebaran di tempat keluarga di Cibubur. Teman-teman yang sudah pernah ke sini ceritanya sepertinya enak betul. Jadi saya juga pengin," ujar Illa, yang baru pertama kali datang ke Istana Negara.

Namun, protes juga dilontarkannya. Menurut Illa, meski warga sudah datang sejak pagi, seharusnya Presiden sebagai tuan rumah memberikan izin untuk masuk dan duduk di dalam kawasan Istana. Illa sendiri mengaku bingung apakah akan terus menunggu atau akan segera pulang.

Efintje Masalamate juga akhirnya memilih bersender di depan pintu gerbang Istana sambil memasang payungnya. "Tidak dibukanya lebar-lebar sebab dilarang oleh petugas penjaga," katanya. Efintje mengaku datang jauh-jauh dari Tahuna bersama rekannya untuk bertemu dengan Presiden SBY dan keluarga.

"Sekalian ada yang mau saya sampaikan untuk Pak Presiden. Kan enggak tahu lagi bisa kapan ketemunya, sekarang saja," katanya tanpa mau menyebutkan persoalan yang hendak disampaikannya.

Advertorial
»