KHAERUDIN
Seperti mengulang upaya Sir Henry Wickman yang membawa 70.000 biji karet dari Brasil tahun 1876 untuk koleksi Kew Botanical Garden London yang kemudian dibagikan ke berbagai kebun raya dunia, IRRDB juga memberikan koleksi hasil buruannya di Brasil kepada negara anggotanya. Jika Kew Botanical Garden tahun 1876 menyumbangkan 18 biji Hevea brasiliensis
Menurut Direktur Pusat Penelitian Karet Chairil Anwar, saat itu pembagian hasil ekspedisi IRRDB bergantung pada luas tanaman dan produktivitas karet tiap negara anggota. Saat itu Indonesia masih menjadi penghasil karet alam terbesar nomor dua, di bawah Malaysia. Thailand baru mencapai status produsen karet alam terbesar di dunia tahun 1991.
Dari 8.749 genotipe tersebut, akhirnya hanya 7.788 genotipe yang berhasil hidup di Indonesia. Sebanyak 7.788 genotipe inilah yang sekarang menjadi kebun plasma nutfah karet milik Pusat Penelitian Karet. Kebun plasma nutfah seluas 50 hektar itu terletak dalam areal Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Deli Serdang, Sumatera Utara.
Menurut peneliti senior pemuliaan tanaman Pusat Penelitian Karet Sekar Wulan, saat ini kebun plasma nutfah di Sungei Putih ini menjadi kebun plasma nutfah terbaik di dunia, mengalahkan kebun induknya di Malaysia.
Kebun plasma nutfah di Sungei Putih menjadi sumber genetis karet alam di Indonesia. Dengan koleksi sebanyak itu, Pusat Penelitian Karet leluasa menghasilkan bibit klon (hasil okulasi) dengan persilangan banyak induk. Sekar mengatakan, setiap tahun balai penelitian itu menyilangkan 25.000 hingga 40.000 bunga.
Namun, persilangan 40.000 bunga ini yang jadi hanya 3 persen atau sekitar 1.200 biji tanam. Dari 1.200 biji kemudian diseleksi untuk mendapatkan 10 persen tanaman terbaik yang akan diokulasikan di kebun entres. Entres adalah batang bawah pohon karet yang dijadikan media tanam okulasi.
Biasanya butuh waktu hingga lima tahun untuk uji pendahuluan. ”Ini untuk melihat mana bibit hasil okulasi yang tingkat produksi lateksnya tinggi,” ujar peneliti muda Balai Penelitian Karet Sungei Putih, Sayurandi.
Bibit jenis inilah yang kemudian diuji lanjutan atau uji adaptasi dengan ditanam di berbagai jenis lahan. Pengujian ini untuk melihat bagaimana hasil biji tersebut bila ditanam di lahan yang berbeda-beda, dari topografi hingga iklimnya. Lima tahun setelah uji lanjutan atau adaptasi, baru kemudian bisa dihasilkan rekomendasi klon harapan. Rekomendasi klon harapan ini pun kembali membutuhkan waktu lima tahun sebelum bisa dihasilkan rekomendasi klon komersial.
Total waktu yang dibutuhkan dari persilangan bunga hingga rekomendasi klon harapan biasanya 20 hingga 25 tahun. Di Indonesia, tradisi pemuliaan karet dilakukan jauh sebelum berdiri Pusat Penelitian Karet tahun 1992. Pusat Penelitian Karet juga berakar pada Algemeen Vereniging van Rubber Planters Ooskust van Sumatera (AVROS), alias gabungan perusahaan perkebunan karet di Sumatera Timur pada awal abad ke-20. AVROS pada tahun 1941 mendirikan badan otonom yang bertugas meneliti dan mengembangkan pemakaian karet, Netherland Indische Insituut voor Rubber Onderzoek Stichting.
Setelah nasionalisasi perusahaan Belanda oleh Presiden Soekarno tahun 1954, AVROS dikelola oleh Gabungan Perusahaan Perkebunan Sumatera dan berubah namanya menjadi RISPA (Research Institute of Sumatera Planters Association). Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Pusat Penelitian Karet. Menurut Chairil, jika dihitung dari masa awal pemuliaan karet di Indonesia tahun 1910, paling tidak sudah ada empat generasi berdasarkan siklus kegiatan pemuliaan (dari persilangan bunga hingga rekomendasi klon harapan).
Generasi pertama, masa pemuliaannya dari tahun 1910 hingga 1935 yang hanya menghasilkan semaian terpilih. Generasi kedua dari tahun 1935 hingga 1960 telah menghasilkan klon rekomendasi, seperti Tjir 1, PR 107, GT 1, dan AVROS 2037. Generasi ketiga dari tahun 1960-1985 menghasilkan klon rekomendasi, seperti BPM 1, BPM 107, PR 255, dan TM2. Adapun generasi keempat dari 1985 hingga 2010 telah menghasilkan klon rekomendasi IRR 104, IRR 118, IRR 220, dan IRR 311.
Upaya pemuliaan dari generasi ke generasi sebenarnya menghasilkan produktivitas karet yang makin tinggi. Sebagai gambaran, klon generasi kedua, seperti Tjir 1 dan PR 107, memiliki potensi 1,5 ton karet kering per hektar per tahun. ”Sekarang potensi IRR 220 mencapai 2,4 ton karet kering per hektar setiap tahun. IRR 104 bisa menghasilkan antara 2,1 ton dan 2,3 ton per hektar setiap tahun,” tutur Sayurandi.
Sayangnya, tingginya produksi karet hasil pemuliaan tanaman Pusat Penelitian Karet ini justru tak terjadi di hampir semua perkebunan karet di Indonesia.
Padahal, menurut Chairil, dari total 3,4 juta hektar kebun karet di Indonesia, seluas 2,9 juta hektar di antaranya dibudidayakan petani kecil. ”Rata-rata produktivitas mereka hanya 900 kilogram karet kering per hektar setiap tahun,” ujarnya.
Upaya pemerintah mendongkrak produktivitas komoditas perkebunan seperti karet sebenarnya sudah dimulai dengan program revitalisasi perkebunan yang dicanangkan sejak tahun 2006. Namun, program ini tak berdampak besar pada peningkatan produktivitas karet rakyat.
Chairil mengungkapkan, salah satu kegagalan revitalisasi perkebunan untuk tanaman karet adalah sulitnya petani karet mendapatkan avalis (penjamin) dari perusahaan perkebunan besar. Selain itu, tidak seperti petani kelapa sawit, petani karet relatif sulit membentuk kelompok. ”Kalaupun ada, jumlahnya sedikit, paling banyak 20 petani. Ini membuat jumlah lahannya juga tak banyak sehingga pihak bank pun enggan mengucurkan kredit,” lanjutnya.
Menurut Chairil, jika melihat tren kenaikan harga karet di pasar internasional, semestinya program peremajaan karet rakyat dilakukan sesegera mungkin. Harga karet di pasar internasional sekarang ini 2,8 dollar AS hingga 2,9 dollar AS per kilogram untuk karet alam SIR 20. Di tingkat petani, karet yang memiliki kandungan air hingga 50 persen dihargai Rp 10.000 hingga Rp 12.000 per kg. Sementara harga karet kering (kadar air nol persen) Rp 20.000 hingga Rp 24.000 per kg.
”Melihat tren kebutuhan karet dunia yang terus meningkat seiring dengan membaiknya perekonomian China dan India, harga karet diperkirakan masih cukup bagus hingga lima tahun mendatang. Sekarang, saingan Indonesia praktis hanya Vietnam dan Laos karena Thailand tak punya lagi lahan, sementara Malaysia fokus ke kelapa sawit,” katanya.
Meski lebih dari satu abad dibudidayakan, produktivitas karet alam Indonesia ternyata sangat rendah. Luasnya kebun dan banyaknya koleksi kebun plasma nutfah ternyata tak dimanfaatkan. Pemerintah Indonesia tak mau meniru Thailand yang berani memberi pinjaman besar-besaran ke petani agar melakukan peremajaan dengan menggunakan bibit klon. Upaya Pemerintah Thailand tahun 1960 terlihat saat ini. Mereka menjadi produsen besar meski kebun karet dan koleksi plasma nutfahnya tak sebesar Indonesia.
