Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 03:16 WIB
Di Laut, Kami Tetap Bisa Lebaran
Sabrina Asril | Jimmy Hitipeuw | Selasa, 7 September 2010 | 20:19 WIB
|
Share:

SELAT MADURA, KOMPAS.com — Bekerja di pelayaran hingga tidak kembali ke rumah berbulan-bulan adalah nilai dari sebuah tanggung jawab para anak buah kapal atau ABK Pelni KM Gunung Dempo.

Momen-momen penting pun terkadang harus dilewatkan tanpa keluarga demi mengemban tugas, termasuk hari raya Idul Fitri. Meski demikian, perayaan Lebaran tetap tidak kehilangan maknanya di kapal buatan Jerman tersebut.

"Kapal ini sudah seperti rumah sendiri. Kalau Idul Fitri, sama seperti di rumah, selesai sholat Id, kami kumpul makan-makan," ujar Nakhoda KM Gunung Dempo, Kapten BES Poerwosudiro, Selasa (10/9/2010) di KM Gunung Dempo.

Ia mengatakan, makanan-makanan yang dihidangkan para koki kapal pun adalah makanan khas Lebaran, seperti ketupat, lontong, opor ayam, dan sate. Bagi Kapten BES, awak kapalnya yang mencapai 135 orang adalah keluarganya selama melaut sehingga kesedihan tidak berlebaran dengan keluarga pun dapat teratasi.

"Kami sudah terbiasa tidak Lebaran dengan keluarga karena di kapal ini kami punya keluarga baru. Kami ini kerja bukan untuk cinta, melainkan untuk rezeki dan ibadah. Kalau kerja untuk cinta, nanti kepingin pulang terus," ujar Kapten BES bersoloroh.

Agar suasana Lebaran tetap semarak, tradisi berlebaran yang biasa dilakukan di rumah juga coba diterapkan kru kapal KM Gunung Dempo seperti malam takbiran dan zakat fitrah. Pada malam sebelum Idul Fitri, para kru kapal dan penumpang akan bersama-sama melakukan takbiran.

"Saat malam takbiran, kami kumpul semua di masjid, kru kapal dan penumpang. Kami takbiran bareng. Karena enggak ada beduk, biasanya kru kapal pakai dirigen air terus dipukul-pukul, yah dikreatif-kreatifin-lah," ujar ABK kapal, Rosadi (46), kepada Kompas.com.

Pria asal Bekasi yang sudah dua puluh tahun mengabdi kepada Pelni ini mengaku, kesedihan baru terasa saat mengumandangkan takbir bersama. "Yang biasanya ramai di rumah kalau takbir, itu akan terasa sekali sedihnya," ungkap Rosadi.

Selain tradisi makan-makan dan malam takbiran, di KM Gunung Dempo, penumpang dan ABK pun bisa menyalurkan zakat fitrah. Hal ini menunjukkan bahwa berlayar tidak menghambat seseorang untuk melakukan ibadah.

"Tiap tahun selalu kami adakan. Ini khusus untuk yang sedang naik kapal ini. Siapa saja bisa. Nanti kami salurkan ke kota tempat kami berlabuh atau ke kaum duafa yang ada di kapal," ujar Rosadi yang juga dipercayai mengolah zakat di KM Gunung Dempo tersebut.

Akan tetapi, hingga H-3 ini, tidak ada satu pun zakat yang masuk ke tangannya. Menurut Rosadi, hal itu mungkin saja terjadi karena pengadaan zakat di kapal ini hanya untuk memudahkan orang yang tengah naik kapal.

"Kalaupun belum, ya kami memang tidak ada target karena ini untuk orang sepintasan saja. Biasanya tiap tahun kami himpun Rp 1 juta-Rp 2 juta," ujarnya.

Meski jauh dari sanak keluarga, semua awak kapal ini berusaha memindahkan kehangatan dan keceriaan nuansa jelang Lebaran hingga saatnya tiba Hari Raya di KM Gunung Dempo. Ikatan yang erat di antara kru kapal pun membuat mereka tetap bertahan melaut hingga berhari-hari, bahkan dalam waktu bulanan.