Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 15:34 WIB
Kunjungi ke Tanah Karo
Kabut Tebal Halangi SBY Pantau Sinabung
Suhartono | I Made Asdhiana | Senin, 6 September 2010 | 16:39 WIB
|
Share:
TRIBUN MEDAN/DEDY SINUHAJISejumlah masyarakat Karo yang berada di sekitar kaki Gunung Sinabung melakukan ritual menolak bencana sambil memberikan sesajen dan berdoa kepada arwah leluhur, yang mereka yakini sebagai penjaga Gunung Sinabung, di Desa Sukanalu, Karo, Sumatera Utara, Kamis (2/9/2010). Petugas vulkanologi menyatakan bahwa Gunung Sinabung masih berstatus awas atau level IV. Pemerintah juga meminta masyarakat yang bermukim dan beraktivitas dalam radius enam kilometer dari kawah aktif mengungsi ke tempat aman.

TANAH KARO, KOMPAS.com - Kabut tebal yang menutupi Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, Senin (6/9/2010) sore, menyebabkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak dapat melihat dan memantau langsung aktivitas gunung setinggi 2.400 meter di atas permukaan laut secara jernih. Presiden akhirnya menggunakan teropong.

Dengan teropong tersebut, Presiden berusaha melihat kondisi Gunung Sinabung pascaletusan dan tiga desa di lereng gunung yang cuma berjarak tiga kilometer dari puncak gunung. Sebelumnya saat tiba di lokasi pemantauan aktivitas Gunung Sinabung di Desa Perteguhen, Kecamatan Simpang Empat, Presiden sempat menanyakan kepada Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono yang memberikan paparan mengenai perkembangan aktivitas Gunung Sinabung di mana lokasi tiga desa di lereng Gunung Sinabung.

"Di sini Pak, satu, dua dan tiga desa. Jaraknya hanya tiga kilometer dari puncak gunung. Padahal, minimal radius enam kilometer dari puncak gunung harus diungsikan semuanya," kata Surono.

Saat menjelaskan kepada Presiden, Surono juga tidak bisa memastikan kapan Gunung Sinabung benar-benar berhenti. "Biasanya, kalau sudah meletus, suatu saat akan meletus lagi. Karena itu, akan dipantau terus menerus," tambahnya.

Selain sebagai tempat pemantauan, lokasi itu juga terdapat Pos Komando Taktis (Poskotis) Kodim Tanah Karo untuk mengendalikan keamanan dan pengamanan masyarakat pasca letusan gunung. Lokasi ini merupakan tanah lapang yang datar sehingga bisa menyaksikan seluruh kondisi gunung jika cuaca cerah.

Setelah meneropong, Presiden menyempatkan berdialog dengan anak-anak di desa Perteguhan. Sebagaimana diberitakan gunung tersebut mendadak meletus setelah "tidur" selama 400 tahun lamanya. Akibatnya, belasan ribu penduduk di radius enam kilometer dari kaki gunung tersebut, mengungsi ke sejumlah lokasi.

Advertorial
»