RUMGAPRES/ABROR RIZKIPresiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato mengenai hubungan Indonesia-Malaysia usai berbuka puasa bersama prajurit dan perwira TNI di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9/2010) petang.
BOGOR, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan ekses negatif sistem demokrasi yang berlangsung saat ini harus dikoreksi sehingga cita-cita reformasi dapat terjaga. Dalam sambutannya pada acara buka puasa bersama dengan pimpinan partai politik peserta deklarator SBY-Boediono di Puri Cikeas, Bogor, Minggu (5/9/2010) petang, Presiden mengatakan semua pihak harus bersama-sama memberikan koreksi bila ada yang menyimpang.
"Banyak ekses dalam demokrasi yang kita jalankan, termasuk pemilu kepala daerah. Bila ada ekses jangan berdiam diri, mari kita lakukan perbaikan," tegasnya.
Kepala Negara menjelaskan reformasi gelombang pertama yang bergulir sejak 1998 telah sama-sama dilalui. Sistem demokrasi telah terbentuk namun bukan berarti tidak ada kekurangan. "Desentralisasi dalam praktiknya ada penyimpangan. Mari kita perbaiki. Jangan dibaca dengan pengembalian sistem otoritarian, karena demokrasi, HAM, dan desentralisasi adalah agenda reformasi kita, tapi bila ada masalah jangan kita diamkan," tegasnya.
Menurut Presiden, upaya-upaya untuk menyusun sistem nasional dan konsensus bagi masa depan Indonesia bukanlah monopoli elite politik semata namun juga ruang diskusi dan wacana dari publik diakomodasi sehingga semua pihak ikut serta mewujudkan sistem nasional bagi Indonesia di masa yang akan datang.
"Kita punya tanggung jawab. Saya senang bila parpol pikirkan itu semua. Kita semua sebagai pelaku, stakeholder. Pemerintah, DPR, DPD tidak boleh monopoli apa pun. Mari kita buka ruang publik yang semakin luas," paparnya.

