JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pelayaran Nasional Indonesia membatalkan program angkutan kapal feri khusus untuk sepeda motor rute Jakarta- Surabaya pada mudik tahun 2010. Alternatif transportasi untuk menekan kepadatan lalu lintas dan angka kecelakaan itu nyaris tidak diminati.
”Baru tiga orang dan tiga motor yang terdaftar dalam program ini. Padahal, kapasitas kapal 1.000 motor dan 1.000 penumpang. Program ini terpaksa dibatalkan,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pelayaran Nasional Indonesia Setyo Budi Santoso, Sabtu (4/9/2010) di Jakarta.
Awalnya, kapal roll on-roll off (roro) KM Ganda Dewata akan mengangkut pemudik bersepeda motor menyusuri pesisir utara Jawa. Kapal ini dijadwalkan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (7/9/2010), dan akan tiba di Tanjung Emas, Semarang, Rabu, dan di Tanjung Perak, Kamis.
Pembatalan program mudik motor dengan feri kemungkinan juga terjadi pada KM Ferindo V. Menurut Direktur Utama PT Dharma Lautan Utama Bambang Harjo, hingga Sabtu kemarin, tidak ada satu pun pendaftar program tersebut. ”Padahal, kapal harus tetap berlayar Minggu (5/9/2010) ini. Jadi, kemungkinan besar program ini batal,” jelasnya.
Menurut Bambang, tarif pengangkutan motor dengan KM Ferindo V dari Tanjung Priok ke Tanjung Perak Surabaya hanya Rp 400.000 plus dua orang pengendara. Sementara, KM Ganda Dewata seharga Rp 500.000.
Setyo menilai, sepinya peminat akibat waktu sosialisasi yang sempit. Instruksi program ini baru datang dua bulan sebelum Lebaran.
Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit menegaskan, sosialisasi paling telat enam belum sebelumnya. ”Konsep mudik dengan kapal masih baru bagi warga Jawa. Akses kapal juga masih terbatas di tiga kota besar,” ujar Bambang. Kereta api
Minat masyarakat untuk memanfaatkan kereta komunitas motor juga rendah. Kepala Humas PT KA Daerah Operasional I Jakarta Mateta menyebutkan, hingga Kamis (3/9/2010) atau H-7 Lebaran, motor yang diangkut baru 1.283 unit. Jumlah itu jauh menurun dibandingkan periode sama tahun 2009 yang mencapai 2.000-an unit.
Ahli transportasi dari Unika Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno, menilai, pemerintah setengah hati menggelar angkutan khusus sepeda motor. Selain sosialisasi minim, tarifnya juga mahal sehingga tak terjangkau calon pemudik motor dari kelas menengah-bawah.
Hingga kini, Kementerian Perhubungan hanya mengangkut 36 motor dengan 56 penumpang dengan dua truk dan bus menuju Semarang dan Purwokerto. Padahal, dua truk itu bisa mengangkut 144 motor.
Menurut Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Suroyo Alimoeso, minimnya peminat karena sebagian besar masa cuti karyawan baru dimulai Kamis (9/9/2010). ”Sehingga motor masih diperlukan untuk bekerja. Padahal, pada program ini tarifnya digratiskan,” jelasnya. (GRE/APO/IRE)

