JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Fraksi Hanura, Akbar Faisal, mengungkapkan bahwa partainya tidak akan menyetujui usulan interpelasi apabila Partai Golkar tidak serius menjalaninya. Hanura, menurutnya, tidak akan terjebak dalam permainan tawar-menawar yang tengah dilakukan Golkar.
"Kami tidak ingin terjebak pada wacana yang semula diusulkan Golkar. Kita lihat interpelasi justru jadi alat bargaining, dan Golkar terlihat tidak serius di situ," ujarnya, Jumat (3/9/2010) di Sekretariat Partai Hanura, Jalan Imam Bonjol, Jakarta.
Akbar melanjutkan, sebenarnya Hanura selalu mengedepankan segala upaya mempertahankan kedaulatan. Namun, melihat perkembangan isu yang ada, Hanura melihat Golkar tidak serius menjalankannya untuk mempertahankan kedaulatan negara.
Sementara itu, Sekretaris Fraksi Partai Hanura, Syarifudin Sudding, juga mengkritik pidato Presiden SBY yang dinilainya tidak memperingatkan Malaysia, tetapi justru memuji diri sendiri. "Ini menyangkut harkat martabat bangsa, tapi tidak ada kejelasan," ujarnya.
Adapun wacana interpelasi ini semula memang diembuskan Partai Golkar terkait kasus yang terjadi pada 13 Agustus lalu di Tanjung Berakit, Kepulauan Bintan. Namun, sikap Golkar berubah setelah mendengar pidato Presiden SBY di Cilangkap.

