Kamis, 23 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Februari 2012 | 15:55 WIB
40 Persen Pengguna Elpiji Ketakutan
| Jumat, 27 Agustus 2010 | 11:44 WIB
|
Share:

Malang, Kompas - Survei membuktikan, sebanyak 53 orang (42 persen) dari 130 responden penelitian konsumen pengguna tabung elpiji 3 kilogram merasa ketakutan tabung gas yang digunakan bisa meledak setiap saat. Hanya 7 persen yang merasa "biasa saja". Namun, kategori lain juga negatif, yakni sedih (6 persen), ngeri (3,9 persen), prihatin (3,9 persen), dan kasihan (3,1 persen).

"Jika 42 persen responden hasil survei itu dikonversikan pada penduduk Indonesia yang seluruhnya atau sebagian amat besar praktis menggunakan tabung elpiji 3 kilogram (kg), jumlah sebenarnya adalah 53 juta orang. Itu jumlah yang amat besar. Pemerintah tidak dapat menganggap ini sebagai sesuatu yang sepele," kata Dr Vina Salviana, Ketua Program Sosiologi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Ia mengemukakan hal itu saat memberi wacana pembanding pada pemaparan penelitian persepsi masyarakat atas tabung gas meledak oleh Laboratorium Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM. Laboratorium yang dipimpin Mohammad Hayat itu menyelenggarakan jajak pendapat dengan metode survei dengan 130 responden.

Mereka yang dipilih tidak hanya ibu rumah tangga, tetapi juga kalangan terdidik sampai pedagang kaki lima, seperti pedagang gorengan dan pengusaha warung makan. Penelitian di bawah koordinasi Rachmad K Dwi Susilo itu dilakukan di dalam Kota Malang pada Juli 2010.

Profil responden menunjukkan sebanyak 42 persen menggunakan elpiji baru 3 tahun terakhir dan hanya 7 persen menggunakan lebih dari 10 tahun. Lebih dari 53 persen responden pernah merasakan pengalaman "tidak enak" selama menggunakan elpiji. Namun, dari hasil penjaringan ditemukan delapan pengalaman tidak enak: tabung gas bocor, regulator rusak atau longgar, selang lembek, produk jelek, kompor tidak menyala meski tabung terisi penuh, tombol harus diputar berulang-ulang, tabung berbunyi mendesis saat dipasangi regulator, dan label SNI tertutup karet.

Penelitian berpusat pada persepsi tentang peristiwa tabung meledak. Sebanyak 67 persen responden menyatakan pernah mendengar, tetapi itu kategori rendah karena 32 persen sisanya sering mendengar. Jadi, 99 persen responden mendengar kabar tabung meledak, terbesar dari televisi (54 persen), dan 24 persen kombinasi televisi dan koran. Menurut Hayat, pelajaran yang pasti bisa didapat adalah betapa pemerintah menerapkan kebijakan dengan hanya berdasarkan pertimbangan ekonomi dan amat kecil melakukan pertimbangan nonekonomi.

Pertimbangan nonekonomi itu termasuk memerhatikan pemahaman masyarakat dan mengabaikan keamanan serta keselamatan masyarakat. "Itu jelas kebijakan ceroboh," ujar pendiri Malang Corruption Watch (MCW), Lutfi J Kurniawan. (ODY)