ASWIN RIZALHARAHAP
Kecintaan Prof Dr Rahardjo Adisasmita, MEc terhadap mengajar tidak lepas dari peran almarhum ayahnya, Raden Sumidi Adisasmita. Profesi sang ayah sebagai guru yang sering mengisi waktu luang dengan menulis ternyata memukau perhatian Rahardjo. ”Saya sangat terinspirasi dari apa yang diajarkan dan dilakukan ayah,” tutur putra ke-5 dari 9 bersaudara ini, Senin (16/8) di kediamannya.
Rahardjo tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang mengutamakan pendidikan. Meskipun hanya dia yang mengikuti jejak sang ayah, saudara kandungnya yang lain berperan cukup penting dalam bidang masing-masing. Kakak sulungnya, Sutomo Adisasmita, pernah menjabat sebagai pemimpin proyek pembangunan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.
Prinsip mengutamakan pendidikan juga diterapkan Rahardjo pada keluarganya. Bersama istrinya, Andi Hafsah Pakki (72), ia menumbuhkan kecintaan mengenyam ilmu kepada kelima anak mereka. Itu boleh dibilang cukup sukses mengingat kelima buah hatinya mampu meraih gelar magister hingga profesor.
Pengalaman mengajar dan mengunjungi berbagai daerah itu pula yang membuat guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin ini turut menyumbangkan pikiran tentang pemindahan ibu kota negara. Ide tersebut telah dimunculkan Rahardjo tahun 2007, jauh sebelum wacana pemindahan ibu kota marak dibicarakan belakangan ini.
Konsep pemindahan ibu kota itu dituangkannya dalam buku berjudul
Dalam buku itu, Rahardjo memaparkan kondisi Jakarta yang semakin tidak layak menjadi ibu kota negara. Ia memandang, ada lima hal yang sangat membebani Jakarta, yakni kepadatan, pendangkalan sungai, banjir kiriman, eksploitasi air tanah, dan air pasang dari laut (rob).
Rahardjo juga menjelaskan, Kota Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai pengganti yang pas jika ibu kota negara dipindah. Ia berpendapat, posisi Makassar di peta Indonesia yang berada tepat di tengah-tengah memenuhi syarat sebuah ibu kota negara. ”Jika ditarik garis lurus secara horizontal, vertikal, serta menyilang diagonal, titik pertemuan dari garis-garis itu ada di Selat Makassar,” ujar lelaki yang telah tinggal di Makassar sejak tahun 1960 ini.
Lokasi Makassar yang dikelilingi selat, teluk, dan laut digambarkan Rahardjo dengan istilah ”semeja”. Dengan karunia itu, ia menganggap Selat Makassar sebagai
”Itulah mengapa saya menilai Makassar lebih pantas dibandingkan Palangkaraya (ibu kota Kalimantan Tengah) yang juga pernah diusulkan Bung Karno. Perpindahan ibu kota bisa lebih cepat dilakukan karena Makassar didukung infrastruktur yang lebih memadai,” katanya.
Beberapa bulan sebelum buku
Ketertarikan Rahardjo untuk menuliskan berbagai pemikiran tentang pengembangan wilayah bermula setelah dia meraih gelar sarjana pada tahun 1960. Ia menyelesaikan kuliah di Jurusan Ekonomi Umum Universitas Indonesia dengan tesis bertopik ekonomi industri. Kala itu industri menjadi saka guru perekonomian karena menciptakan lapangan kerja dan memperkokoh struktur ekonomi.
Ia memperdalam ilmu pengetahuan tentang ekonomi industri dengan mengambil Jurusan Transportasi Laut di Queensland University, Australia, dan meraih gelar master pada tahun 1980. Tiga tahun berselang, Rahardjo menyempurnakan ilmu pengetahuannya dengan mengambil program doktoral pada Jurusan Pengembangan Wilayah di Universitas Hasanuddin.
”Spesialisasi pengembangan wilayah saya ambil atas saran almarhum Purnomosidi Hadjisaroso yang kala itu menjabat Menteri Pekerjaan Umum. Saat itu saya menyadari, tujuan
Buah pemikiran Rahardjo mengenai pemerataan pembangunan di Tanah Air telah dituangkannya pada sekitar 50 buah buku. Jumlah itu akan terus bertambah karena saat ini ia tengah menyiapkan tiga buku berjudul
Semangat kakek dari 11 cucu itu untuk menulis patut diacungi jempol. Apalagi kegiatan itu dilakukan Rahardjo di sebuah meja kecil yang terletak di pojok ruang tamu dan menggunakan mesin ketik manual. ”Saya hidup untuk membagikan ilmu pengetahuan dengan orang lain,” katanya.
Semangat untuk menulis buku itu sepadan dengan ketegaran fisiknya yang tetap bugar saat mengajar dengan berdiri di depan kelas.

