Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 14:28 WIB
Rahardjo dan Logika Ibu Kota Negara
| Senin, 23 Agustus 2010 | 02:49 WIB
|
Share:

ASWIN RIZALHARAHAP

Usia 75 tahun tak menyurutkan semangat Rahardjo Adisasmita untuk terus mengajar. Dia masih menghabiskan waktu empat hari dalam sepekan untuk mengajar di sejumlah perguruan tinggi negeri di Samarinda, Manado, Ambon, dan Jayapura bagi calon sarjana hingga calon doktor.

Saat tidak bepergian pun diisi Rahardjo dengan mengajar dan membimbing mahasiswa yang tengah menyelesaikan skripsi ataupun tesis di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Rahardjo juga masih aktif menyebarkan ilmu di beberapa perguruan tinggi swasta di Makassar, Sulawesi Selatan, seperti di Universitas 45 serta Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Manajemen Bongaya.

Kecintaan Prof Dr Rahardjo Adisasmita, MEc terhadap mengajar tidak lepas dari peran almarhum ayahnya, Raden Sumidi Adisasmita. Profesi sang ayah sebagai guru yang sering mengisi waktu luang dengan menulis ternyata memukau perhatian Rahardjo. ”Saya sangat terinspirasi dari apa yang diajarkan dan dilakukan ayah,” tutur putra ke-5 dari 9 bersaudara ini, Senin (16/8) di kediamannya.

Rahardjo tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang mengutamakan pendidikan. Meskipun hanya dia yang mengikuti jejak sang ayah, saudara kandungnya yang lain berperan cukup penting dalam bidang masing-masing. Kakak sulungnya, Sutomo Adisasmita, pernah menjabat sebagai pemimpin proyek pembangunan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Prinsip mengutamakan pendidikan juga diterapkan Rahardjo pada keluarganya. Bersama istrinya, Andi Hafsah Pakki (72), ia menumbuhkan kecintaan mengenyam ilmu kepada kelima anak mereka. Itu boleh dibilang cukup sukses mengingat kelima buah hatinya mampu meraih gelar magister hingga profesor.

Pemindahan ibu kota

Pengalaman mengajar dan mengunjungi berbagai daerah itu pula yang membuat guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin ini turut menyumbangkan pikiran tentang pemindahan ibu kota negara. Ide tersebut telah dimunculkan Rahardjo tahun 2007, jauh sebelum wacana pemindahan ibu kota marak dibicarakan belakangan ini.

Konsep pemindahan ibu kota itu dituangkannya dalam buku berjudul Kawasan Pembangunan Semeja. Buku ini merupakan satu dari sekitar 50 buku yang telah ditulis Rahardjo sejak tahun 1960-an. Mayoritas buku berisi konsep pengembangan wilayah dan tata ruang dari segi ekonomi, sosial, dan politik, sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya.

Dalam buku itu, Rahardjo memaparkan kondisi Jakarta yang semakin tidak layak menjadi ibu kota negara. Ia memandang, ada lima hal yang sangat membebani Jakarta, yakni kepadatan, pendangkalan sungai, banjir kiriman, eksploitasi air tanah, dan air pasang dari laut (rob).

Rahardjo juga menjelaskan, Kota Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai pengganti yang pas jika ibu kota negara dipindah. Ia berpendapat, posisi Makassar di peta Indonesia yang berada tepat di tengah-tengah memenuhi syarat sebuah ibu kota negara. ”Jika ditarik garis lurus secara horizontal, vertikal, serta menyilang diagonal, titik pertemuan dari garis-garis itu ada di Selat Makassar,” ujar lelaki yang telah tinggal di Makassar sejak tahun 1960 ini.

Lokasi Makassar yang dikelilingi selat, teluk, dan laut digambarkan Rahardjo dengan istilah ”semeja”. Dengan karunia itu, ia menganggap Selat Makassar sebagai lifeline (garis hidup) Indonesia pada masa depan. Posisinya yang menjadi titik sentral berpotensi menyeimbangkan pembangunan di kawasan barat dan timur Indonesia.

”Itulah mengapa saya menilai Makassar lebih pantas dibandingkan Palangkaraya (ibu kota Kalimantan Tengah) yang juga pernah diusulkan Bung Karno. Perpindahan ibu kota bisa lebih cepat dilakukan karena Makassar didukung infrastruktur yang lebih memadai,” katanya.

Beberapa bulan sebelum buku Kawasan Pembangunan Semeja terbit, Rahardjo mewacanakan pentingnya pemindahan ibu kota ke kawasan timur Indonesia lewat buku Ekonomi Archipelago. Buku yang diilhami oleh Deklarasi Juanda (1957) ini menganjurkan agar pembangunan daratan dan lautan dilaksanakan secara proporsional. Hal ini guna mewujudkan pemerataan pembangunan di Indonesia yang terdiri dari kepulauan.

Ketertarikan Rahardjo untuk menuliskan berbagai pemikiran tentang pengembangan wilayah bermula setelah dia meraih gelar sarjana pada tahun 1960. Ia menyelesaikan kuliah di Jurusan Ekonomi Umum Universitas Indonesia dengan tesis bertopik ekonomi industri. Kala itu industri menjadi saka guru perekonomian karena menciptakan lapangan kerja dan memperkokoh struktur ekonomi.

Membagi ilmu

Ia memperdalam ilmu pengetahuan tentang ekonomi industri dengan mengambil Jurusan Transportasi Laut di Queensland University, Australia, dan meraih gelar master pada tahun 1980. Tiga tahun berselang, Rahardjo menyempurnakan ilmu pengetahuannya dengan mengambil program doktoral pada Jurusan Pengembangan Wilayah di Universitas Hasanuddin.

”Spesialisasi pengembangan wilayah saya ambil atas saran almarhum Purnomosidi Hadjisaroso yang kala itu menjabat Menteri Pekerjaan Umum. Saat itu saya menyadari, tujuan terpenting pembangunan adalah pemerataan bagi penduduk yang tersebar di kepulauan,” katanya.

Buah pemikiran Rahardjo mengenai pemerataan pembangunan di Tanah Air telah dituangkannya pada sekitar 50 buah buku. Jumlah itu akan terus bertambah karena saat ini ia tengah menyiapkan tiga buku berjudul Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas di Jakarta, Ekonomi Sumber Daya Pesisir dan Kelautan, serta Analisis Tata Ruang Pembangunan.

Semangat kakek dari 11 cucu itu untuk menulis patut diacungi jempol. Apalagi kegiatan itu dilakukan Rahardjo di sebuah meja kecil yang terletak di pojok ruang tamu dan menggunakan mesin ketik manual. ”Saya hidup untuk membagikan ilmu pengetahuan dengan orang lain,” katanya.

Semangat untuk menulis buku itu sepadan dengan ketegaran fisiknya yang tetap bugar saat mengajar dengan berdiri di depan kelas.

RAHARDJO ADISASMITA 
• Lahir: Solo, 12 Januari 1935 
• Istri: Andi Hafsah Pakki (72)
 • Anak: - Suci Pratiwi(48) - Sakti Aji (46) - Asli Alifiyanti (44) - Alif Abadi (43) - Muhammad Fajar Perkasa (39) 
• Pendidikan: - S-1 Jurusan Ekonomi Umum Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1960) - S-2 Jurusan Transportasi Laut Queensland University, Australia (1980) - S-3 Jurusan Pengembangan Wilayah Universitas Hasanuddin (1987) • Buku, antara lain: - Dasar-dasar Ekonomi Wilayah (2005) - Pembangunan Ekonomi Perkotaan (2005) - Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan (2006) - Ekonomi Archipelago (2008) - Kawasan Pembangunan Semeja (2008) - Pembangunan Kawasan dan Tata Ruang (2010) - Dasar-dasar Ekonomi Transportasi (2010)

 

Advertorial
»