KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Korban ledakan tabung gas, Ridho Januar, bermain saat dirawat di Unit Luka Bakar, RS Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (20/7/2010). Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih menjenguk Ridho dan berjanji bahwa pemerintah menanggung semua biaya pengobatannya.
JAKARTA, KOMPAS.com — Ridho, bocah laki-laki berusia 4,5 tahun yang menjadi korban ledakan elpiji, mengalami trauma. Ridho merasa takut dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan elpiji.
"Ridho trauma dengan gas elpiji. Dia bahkan melarang saya untuk masak," ucap Susi Hariani, ibu Ridho, kepada Kompas.com, Rabu (21/7/2010) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Menurutnya, Ridho merasa takut dengan elpiji dan segala sesuatu yang berkaitan dengan gas. "Pernah waktu dirawat di Surabaya kemarin, waktu ada bunyi halilintar waktu hujan, dia minta semua lampu dimatikan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan listrik, dia minta dimatikan. Dia trauma," jelas Susi.
Diungkapkannya, tak hanya Ridho yang mengalami trauma, ia pun mengalaminya. Ledakan elpiji yang menimpa dirinya dan anaknya menyebabkan ia sering kali takut. "Bagaimana tidak trauma? Ledakan gas begitu. Saya trauma dengan gas elpiji," ungkap ibu dari tiga anak tersebut.
Ditambahkannya, untuk menghilangkan trauma tersebut butuh waktu yang lama bagi dirinya. Akibat ledakan gas yang menimpa anak dan dirinya, ia sulit melupakan tragedi ledakan tersebut. "Trauma tidak bisa sembuh dalam 1-2 tahun," lanjutnya. (engge)

