Jumat, 21 November 2014

News / Nasional

BOM MOLOTOV

Polri Harus Ungkap Teror Molotov

Selasa, 6 Juli 2010 | 20:02 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah kalangan mendesak Polri bisa segera tuntas mengungkap pelaku sekaligus otak aksi teror pelemparan bom molotov terhadap kantor Majalah Tempo di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, yang terjadi pada Selasa (6/7/2010) dini hari. Dengan begitu, Polri tidak perlu lagi menyibukkan diri membantah anggapan atau kecurigaan sejumlah kalangan kalau aksi teror itu ada kaitannya dengan pemberitaan Majalah Tempo sebelumnya soal dugaan rekening mencurigakan yang dimiliki sejumlah petinggi Polri.

Desakan itu terangkum oleh Kompas seusai menemui sejumlah kalangan terkait, Selasa (6/7/2010), seperti Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Wahyu Muryadi, Edwin Partogi dari Kontras, dan Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers Agus Sudibyo. "Memang belum tentu juga teror ini terkait berita kami. Namun, bisa jadi juga memang ada pihak tertentu yang ingin menggiring kami berpikir kalau yang melakukan aksi teror tersebut adalah Polri," ujar Muryadi.

Muryadi lebih lanjut menilai aksi pelemparan bom molotov tersebut sebagai sebuah aksi keji dan tidak beradab, yang juga sekaligus mengancam institusi dan kebebasan pers. Akan tetapi dia, juga mengaku yakin Polri akan bertindak profesional dengan segera mengungkap pelaku, otak, dan motif di balik teror itu. "Seingat saya, aksi teror dengan melempar molotov macam ini belum pernah terjadi. Kami memang pernah digerebek dan didatangi waktu kasus Tenabang, tapi ini kan dilempar bom molotov, lho," ujar Muryadi.

Muryadi lebih lanjut mengisahkan, peristiwa pelemparan tersebut terjadi sangat cepat pada Selasa dini hari sekitar pukul 02.00. Secara tiba-tiba sepeda motor bebek yang ditumpangi dua orang berpakaian gelap dan berhelm jenis tertutup (cakil) berhenti di depan kantor Majalah Tempo dari arah timur. Salah seorang dari mereka turun dan berjalan ke arah gerbang kantor Majalah Tempo.

Tidak lama kemudian tiga botol bom molotov melayang ke arah halaman pelataran kantor, dua dari tiga botol molotov meledak dan getarannya terasa sampai lantai tiga kantor. Petugas satpam dan beberapa karyawan yang masih ada di kantor terkejut dan keluar untuk kemudian memadamkan api.

Sebelum kejadian itu, tambah Muryadi, pihaknya tidak pernah menerima peringatan atau ancaman apa pun. "Beruntung kejadian itu tidak meminta korban, baik orang maupun benda atau kendaraan. Pelaku teror ini kan intinya mau menyampaikan pesan kepada kami. Bisa saja teror ini dilakukan oleh mereka yang tidak suka pada Tempo, pada kebebasan pers, atau juga pada Polri. Mereka coba mau memanfaatkan momen sekarang untuk memancing di air keruh," ujar Maryadi.

Kecam

Sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga mendatangi kantor Majalah Tempo untuk menyampaikan dukungan sekaligus mengecam aksi brutal teror pelemparan bom molotov tersebut. Edwin Partogi dari Kontras menilai kuat dugaan aksi teror terkait dengan pemberitaan Majalah Tempo tentang dugaan rekening mencurigakan sejumlah petinggi Polri, yang beberapa waktu sebelumnya sempat menyedot perhatian publik dan membuat merah kuping sejumlah pejabat Polri.

"Namun, bisa jadi ada banyak pihak punya banyak kepentingan dalam kasus ini. Mulai dari mereka yang ikut merasa terganggu dengan pemberitaan itu atau bisa juga mereka yang ingin semakin memperkeruh perseteruan yang muncul antara Majalah Tempo dan Polri. Kewajiban Polri segera mengungkap semua itu," ujar Edwin.

Saat dihubungi terpisah, Agus Sudibyo dari Dewan Pers menegaskan, pihaknya mendesak pemerintah bisa konsisten dan tegas melindungi kemerdekaan pers serta memberi rasa aman terhadap wartawan dan media massa dalam menjalankan tugas jurnalistik mereka.

Menurut Agus, publik sekarang memang akan langsung mengaitkan aksi teror tersebut dengan kisruh yang terjadi antara Majalah Tempo dan Polri, menyusul pemberitaan tentang sejumlah rekening mencurigakan itu. "Akan tetapi, mari kita jangan berapriori dahulu. Silakan saja sekarang Polri mengungkap kasus teror itu sesegera mungkin sehingga mereka tidak perlu sibuk membantah saja. Kuncinya ada di langkah penegakan hukum oleh Polri. Usut tuntas kasus teror itu, " ujar Agus.

Lebih lanjut Agus juga menyampaikan dukungan moral Dewan Pers terhadap Majalah Tempo dengan harapan aksi teror tersebut tidak menyurutkan langkah majalah tersebut untuk terus memberitakan informasi sebaik dan seakurat mungkin demi kepentingan masyarakat banyak.


Editor : I Made Asdhiana