Kamis, 23 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Februari 2012 | 15:25 WIB
MUKTAMAR MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah Butuh Regenerasi
| Heru Margianto | Senin, 5 Juli 2010 | 09:09 WIB
|
Share:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Muhammadiyah membutuhkan regenerasi kepemimpinan agar tidak menimbulkan krisis kepemimpinan institusional. Tuntutan regenerasi itu muncul menyusul banyaknya pengurus lama pada Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2005-2010 yang dicalonkan untuk duduk kembali pada kepengurusan dalam Muktamar Ke-46 Muhammadiyah kali ini.

Anggota Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society, Yudi Latif, saat dihubungi dari Yogyakarta, Minggu (4/7/2010), mengingatkan agar dalam memilih pemimpin, kader Muhammadiyah tidak terjebak dalam nama-nama besar elitenya. Nama besar bukan jaminan untuk mampu membawa Muhammadiyah menuju pembaruan (tajdid) memasuki abad ke-2 berdirinya Muhammadiyah. ”Muhammadiyah butuh pemimpin yang memiliki komitmen, ikhlas, tulus, dan mampu mengembalikan Muhammadiyah ke jalur pembaharuannya,” katanya.

Pemimpin yang memiliki komitmen kuat terhadap organisasi dipastikan tidak akan membawa Muhammadiyah dalam tarikan berbagai kepentingan. Tokoh seperti itu, meskipun tidak terkenal di kalangan publik, atau tokoh nasional, layak dipilih sebagai pemimpin. Namun, jika terpilih, ia harus didukung tim yang mampu menyuarakan aspirasi dan kepentingan Muhammadiyah.

Kriteria itu muncul dilandasi kegelisahan sebagian kalangan, termasuk kelompok internal Muhammadiyah, atas mandeknya semangat pembaruan.

Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq menegaskan, regenerasi Muhammadiyah merupakan sebuah keharusan. ”Muhammadiyah akan sulit terhindar dari krisis institusional jika kepentingan kaderisasi dan regenerasi diabaikan dalam muktamar,” katanya.

Saat ini Muhammadiyah terjebak dalam pelembagaan birokratisasi dan semakin pragmatis, sementara semangat pembaruan yang merupakan motor penggerak organisasi mulai menipis.

Karena itu, lanjut Fajar, diperlukan kepemimpinan kolektif baru yang konsisten menyuarakan pembaruan gerakan, mendorong akuntabilitas organisasi, dan menjaga institusi dari godaan politik praktis.

Kepala Pusat Studi Muhammadiyah dan Perubahan Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Asep Purnama Bachtiar, mengatakan sebanyak 39 calon tetap anggota Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu merupakan pilihan anggota tanwir atau lembaga perwakilan tertinggi Muhammadiyah yang berasal dari pengurus wilayah dan pusat. Banyaknya anggota PP Muhammadiyah yang dicalonkan lagi itu mencerminkan ada masalah dalam pembinaan organisasi.

PP Aisyiyah melayangkan nota keberatan kepada PP Muhammadiyah karena tak ada calon perempuan untuk kepemimpinan 2010-2015. ”Kontribusi Aisyiyah tidak dihargai dalam kepemimpinan kolektif Persyarikatan Muhammadiyah,” kata Sekretaris PP Aisyiyah Trias Setiawati, kemarin. (WKM/NTA/MZW/ARA)

Sumber :
Kompas Cetak