Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 13:30 WIB
Muktamar Muhammadiyah
Tak Ada Calon Perempuan, Aisyiyah Protes
Mawar Kusuma Wulan | Tri Wahono | Minggu, 4 Juli 2010 | 16:25 WIB
|
Share:

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato sesaat sebelum membuka Muktamar Muhammadiyah melalui fasilitas telekonferensi dari Madinah, Arab Saudi, di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Sabtu (3/7). Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin sebelumnya menyampaikan kepada peserta muktamar bahwa ketidakhadiran Presiden Yudhoyono ke arena muktamar bukanlah sinyal ketidakharmonisan hubungan antara pemerintah dan Muhammadiyah.

TERKAIT:

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pimpinan Pusat atau PP Aisyiyah menyatakan keberatan karena tidak ada satu pun wakil perempuan dalam hasil pemilihan calon untuk kepemimpinan PP Muhammadiyah 2010-2015. Protes tersebut dilayangkan melalui nota keberatan kepada PP Muhammadiyah

Hasil pemilihan 39 calon anggota PP Muhammadiyah memang sama sekali tidak memberi ruang bagi keterlibatan perempuan. Nota keberatan tersebut telah disampaikan melalui surat kepada PP Muhammadiyah dengan ditandatangani oleh seluruh anggota PP Aisyiyah dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah dari seluruh provinsi di Indonesia.

"Kontribusi Aisyiyah tidak dihargai dalam kepemimpinan kolektif Persyarikatan Muhammadiyah," kata Sekretaris PP Aisyiyah Trias Setiawati, Minggu (4/7/2010). Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah menyebutkan bahwa anggota Muhammadiyah terdiri atas laki-laki dan perempuan sehingga unsur Pimpinan Pusat Muhammadiyah seharusnya merefleksikan komposisi keanggotaan tersebut. Tidak terwakilinya kaum perempuan dinilai tidak mencerminkan semangat Muktamar Muhammadiyah ke-46 untuk membentuk peradaban utama yang menghargai kesetaraan gender.

Melalui nota keberatan tersebut, PP Aisyiyah mendesak agar Muktamar Muhammadiyah mempertimbangkan keterwakilan perempuan dengan strategi affirmative action atau ungkapan persetujuan. PP Muhammadiyah harus kembali pada semangat ketika pertama kali KH Ahmad Dahlan membentuk Aisyiyah bahwa urusan dapur jangan menjadi alasan bagi perempuan untuk tidak terlibat dalam pencerdasan bangsa.

Sistem pemilihan anggota PP Muhamadiyah serta Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah didesak agar diubah sehingga seimbang dalam menempatkan keanggotaan pimpinan laki-laki dan perempuan. Organisasi Muhammadiyah yang cerdas, kritis, dan modern tidak tercermin dalam ekspresi pemilihan anggota PP Muhammadiyah yang tidak mengakomodasi unsure perempuan.

Ketiadaan kaum perempuan sebagai anggota PP Muhammadiyah, menurut anggota Lembaga Penelitian dan Pengembangan Aisyiyah Tri Hastuti, akan berdampak pada kurang diperhatikannya persoalan perempuan seperti tingginya angka kematian ibu melahirkan.

Advertorial
»