Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 13:30 WIB
MUKTAMAR MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah, Hati-hati Pilih Pemimpin
Hindra Liu | Heru Margianto | Minggu, 4 Juli 2010 | 12:33 WIB
|
Share:
KOMPAS/PRIYOMBODOMuchdi Purwopranjono.

JAKARTA, KOMPAS.com - Muhammadiyah seyogyianya selektif dalam memilih kader dan menentukan pemimpin. Jangan sampai organisasi terbesar kedua di Indonesia itu dipimpin oleh orang yang bercitra tidak baik di mata publik. Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti mengatakan hal ini terkait masuknya mantan Mantan Deputi V Badan Intelijen Negara Muchdi Purwopranjono ke bursa calon anggota pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2010-2015.

"Saya melihat ada ormas besar yang masih belum peka dalam memilih pemimpin yang terbaik. Bahkan cenderung mau didekati kelompok pemimpin militer dengan mengatasnamakan Islam. Ini yang menyedihkan. Jika Muchdi yang rekam jejaknya tidak bersih semasa dia berkuasa diterima, maka saya tidak bisa membayangkan Muhammadiyah ke depan. Pasti akan bisa dijinakkan dan dijadikan kendaraan untuk membersihkan namanya, dan persiapan (Pemilu) 2014," terang Poengky di Jakarta, Minggu (4/7/2010).

Seperti diwartakan, Muchdi masuk dalam 39 nama calon anggota tetap Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2010-2015 dengan memperoleh 80 suara dalam sidang tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta, Jumat (2/7/2010) kemarin.

Muchdi menempati urutan 34 dari 39 calon anggota tetap Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berdasarkan hasil pemungutan suara dalam sidang tanwir. Ke-39 nama yang akan dibawa ke muktamar itu merupakan pengerucutan dari 124 calon anggota sementara PP Muhammadiyah.

Sementara itu, Koordinator Divisi Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Erwin Partogi mengatakan, niat politisi Partai Gerindra tersebut ke Muhammadiyah merupakan hak organisasi yang bersangkutan. Hal ini juga sepenuhnya hak kader Muhammadiyah untuk menentukan pilihan.

"Namun, kami mengingatkan kawan-kawan Muhammadiyah untuk mempertimbangkan track record Muchdi. Jika tidak, ini akan merugikan citra Muhammadiyah," katanya.

Sebelumnya, pada tahun 2008 Muchdi sempat didakwa turut menganjurkan ataupun turut serta pembunuhan berencana terhadap Munir, aktivis hak asasi manusia yang pernah memimpin Kontras dan Imparsial. Namun, Muchdi divonis bebas oleh hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Muchdi mengaku hendak memimpin Muhammadiyah lantaran dirinya memiliki kedekatan dengan organisasi tersebut. Dikatakannya, sejak kecil diasuh dalam keluarga dan pendidikan Muhammadiyah sehingga sangat memahami organisasi Islam tersebut. Muhammadiyah telah mendarah daging dalam dirinya.

"Saya lahir dari keluarga Muhammadiyah, kecil di Muhammadiyah, dan tumbuh juga dari Muhammadiyah. Jadi, saya paham mengenai ideologi Muhammadiyah bahwa gerakan Islam itu memang tidak berpolitik," katanya.

Advertorial
»