Selasa, 21 Oktober 2014

News / Regional

Bibit Obat Kuat Pasak Bumi Diminati

Minggu, 23 Mei 2010 | 16:31 WIB

PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Bibit pasak bumi atau urycomma longifolia sebagai tanaman khas Kalimantan yang merupakan bahan baku obat tradisional diminati pengunjung pameran produk unggulan nasional Kalteng Expo 2010 di stand Kabupaten Barito Utara.

"Sejak dibuka hingga saat ini yang laku sudah mencapai puluhan bibit pasak bumi," kata seorang petugas jaga stand Barito Utara, Murdani di Palangka Raya.

Kegiatan yang berakhir 24 Mei ini diikuti perusahaan nasional, 14 kabupaten dan kota di Kalteng dengan menawarkan produk unggulan dan kerajinan.

Menurut Murdani, bibit pasak bumi yang dijadikan obat-obatan dari akar kayu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit ini banyak tumbuh di sekitar kawasan hutan di Kabupaten Barito Utara.

"Bibit pasak bumi ini saya peroleh dari kawasan hutan di sekitar tempat tinggal kami," kata warga Kelurahan Jambu Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara ini.

Dia mengatakan, pasak bumi yang diyakini sebagai obat vitalitas ini diperoleh dengan mengambil anaknya di hutan kemudian dicabut dan dimasukkan dalam kantong plastik (polybeck) yang jumlahnya mencapai ratusan bibit.

Untuk sementara, budidaya salah satu jenis tanaman obat-obatan ini hanya melalui pohon pasak bumi yang masih kecil dan masih belum pernah dicoba pengembangnnya apakah melalui batang atau buah.

"Untuk menghindari berkurangnya tumbuhan itu perlu diteliti pengembangannya untuk dibudidayakan," katanya.

Murdani juga menawarkan obat-obatan dari akar kayu khas Kalimantan lainnya yang banyak ditemukan di sekitar hutan.

Akar ini diracik, diolah dan dikemas sebagai bahan baku obat tradisional yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan sudah dilakukan secara turun-temurun oleh suku Dayak setempat.

Akar dan kayu-kayuan hutan yang yang diolahnya sebagai bahan baku obat tradisional itu di antaranya selain pasak bumi, juga ada saluang belum, akar kuning, cawat hanoman, rahwana, ampelas buyung, penawar seribu, penawar sampai, uwe menyame, pala hutan dan paparingan.

"Warga di daerah ini masih memanfaatkan obat tradisional dengan alasan tidak berdampak efek samping dibanding obat medis," katanya.

Semua bahan baku obat itu diracik hingga ukuran kecil kemudian dipisahkan menurut jenis dan khasiatnya, namun ada juga yang dicampur sampai 12 jenis akar-akaran untuk obat kesehatan.

"Semua jenis obat tradisional itu mempuyai khasiat yang berbeda untuk menyembuhkan penyakit," kata perajin obat tradisional yang hampir semua kota besar di Indonesia ini pernah dikunjunginya dalam kegiatan pameran.

Bahan baku obat yang sudah dikeringkan itu dimasukkan ke dalam kemasan baik bentuk plastik maupun botol dengan diberi tanda nomor urut sesuai manfaat khasiat obat serta bentuk gelas kayu seperti seluang belum dan pasak bumi yang berkhasiat sebagai obat kuat.

Khasiat obat yang dijualnya itu dapat menyembuhkan 38 jenis penyakit diantaranya untuk obat kuat, ginjal, kanker, sari rapat, impoten, jantung, kolestrol, tumor, asam urat, rheumatik.

"Obat tradisional hasil racikan saya ini sudah punya pangsa pasar di Jakarta melalui pedagang setempat," katanya mengakui usaha ini sudah dilakukan secara turun- temurun.

Selain mengirimkan obat tradisional itu ke luar daerah, dia juga menjual barangnya di Muara Teweh dengan harga bervariasi antara Rp 10.000/bungkus hingga Rp 80 ribu per botol, harga tersebut sesuai khasiatnya.

"Khasiat obat tradisional ini sudah banyak terbukti menyembuhkan berbagai penyakit, misalnya dalam pengobatan medis sudah tidak mampu lagi disembuhkan," katanya meyakinkan.


Editor : bnj
Sumber: