Senin, 21 April 2014

News /

Pendidikan Pancasila Perlu Inovasi

Kamis, 29 April 2010 | 03:16 WIB

Baca juga

YOGYAKARTA, KOMPAS - Ketua MPR Taufiq Kiemas mengemukakan perlunya inovasi dalam pendidikan Pancasila sesuai dengan perkembangan zaman. Karena itu, MPR mengajak lembaga pendidikan guna membumikan lagi Pancasila dengan sejumlah inovasi.

Untuk keperluan itu, MPR menggandeng Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa untuk kerja sama peningkatan mutu sosialisasi empat pilar kenegaraan di Yogyakarta, Rabu (28/4). Taufiq sadar, MPR tidak bisa bekerja sendiri menanamkan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Sebelumnya, MPR menjalin kerja sama dengan Mahkamah Konstitusi, Persatuan Guru Republik Indonesia, dan Dewan Masjid Indonesia.

Menurut dia, Pancasila harus dimaknai sebagai ideologi dan falsafah negara yang menjadi landasan etika dan moral bangsa, UUD 1945 sebagai landasan konstitusional, NKRI sebagai konsensus yang harus dijunjung tinggi, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai kekayaan dan modal bangsa untuk bersatu.

Jiwa merdeka

Ketua Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Ki Tyasno Sudarto menambahkan, pendidikan jangan semata mengembangkan intelektualitas, tetapi juga harus menyentuh kepribadian dengan pendidikan karakter bangsa. Pendidikan nasional diharapkan dapat mengembangkan jiwa merdeka, pikiran merdeka, dan tenaga merdeka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Institusi pendidikan, seperti perguruan tinggi, menurut dosen Pendidikan Pancasila Universitas Gadjah Mada, Heri Santosa, sudah mulai melakukan inovasi dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan Pancasila. Inovasi tersebut, antara lain, dengan bahan pembelajaran, metode pembelajaran, serta peningkatan kemampuan dan keterampilan dosen. (WKM/BUR)


Editor :