JAKARTA, KOMPAS.com - Jika selama ini sering terlibat dengan dinamika politik praktis, sudah saatnya Nadhlatul Ulama sebagai organisasi masyarakat besar dirasa kembali pada khittahnya.
Hal ini ditegaskan oleh pengamat politik Yudi Latif dari Reform Institute di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jumat (19/3/2010). "NU penting untuk kembali pada basis kulturalnya, kembali khittahnya tapi tidak meninggalkan politik," ungkapnya.
Menurut Yudi, hakekat berdirinya NU sendiri dilandasi semangat untuk memberdayakan masyarakat di berbagai bidang, termasuk politik. Namun, dalam praktiknya, sejumlah pihak di dalamnya tenggelam dalam permainan politik praktis sehingga melupakan hakekatnya.
Yudi mencatat NU pernah muncul sebagai partai politik dengan rekam jejak yang jatuh bangun. Namun, NU sebagai kekuatan kultural juga menjadi bagian penting dari tonggak sejarah bangsa. Hanya saja, kekuatan kultural akan muncul menjadi kekuatan politik ketika negara dalam kondisi resesi dan krisis politik. "NU sebagai kekuatan kultural menjadi kekuatan tandingan," tandasnya.
