JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang Muktamar Nadhlatul Ulama ke-32 akhir Maret ini, harapan-harapan munculnya kembali semangat awal terbentuknya NU bermunculan. Ke depannya, NU diharapkan kembali pada visi misi pelayanannya kepada masyarakat, termasuk politik praktis. Namun tidak memfokuskan pada politik praktis.
"NU jangan sampai dibenturkan kembali ke politik praktis. Untuk menahan diri harus ada pembagian yang jelas dalam konteks garapan-garapan politik, tentu politik kebangsaan, bukan lagi Pilgub," ujar politisi PKB, Marwan Djafar di Gedung MPR/DPR RI, Jumat (19/3/2010).
Selama ini, menurut Marwan, kondisi NU sangat membingungkan karena ulama yang seharusnya menjadi pengawal semangat pelayanan NU justru banyak mengurusi politik praktis, contohnya sejumlah ulama yang terlibat langsung dalam Pemilihan Gubernur. Hal ini tentu dapat mencederai hakekat NU dalam masyarakat.
"NU dikawal oleh ulama dan otoritas ulama harus dikembalikan, spirit berdirinya NU adalah pergerakan ulama, khittah awalnya waktu itu," kata Marwan.
Untuk itu, pengalihan kembali semangat NU untuk dikawal kembali oleh ulama diperlukan. Kesakralan NU harus tetap dijaga. Tugas-tugas politik harus pula dijaga dengan tujuan untuk mempertahankan NKRI.
"Pemain-pemain itu harus sadar dirilah agar tidak membawa NU ke jurang politik yang tidak menentu," ujar Marwan.
