SOLO, KOMPAS.com — Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia atau BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat mengatakan, pengiriman tenaga kerja Indonesia informal ke Timur Tengah sementara ini perlu dihentikan.
"Pengiriman TKI, khususnya pembantu rumah tangga (PRT), ke Timteng itu perlu dihentikan karena lebih bersifat perdagangan orang daripada penempatan tenaga kerja," katanya seusai menghadiri acara peluncuran "Career Development Center (CDC)" Universitas Sebelas Maret Surakarta, Kamis (18/3/2010).
Hampir semua duta besar Indonesia yang berada di Timur Tengah juga menghendaki pengiriman TKI, khususnya PRT, ke wilayah tersebut untuk sementara dihentikan dulu, sambil dilakukan penataan dan pembenahan, katanya saat hadir dalam penandatanganan nota kesepahaman antara UNS dan BNP2TKI di Solo itu.
"Semua duta besar Indonesia yang ada di negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, telah meminta dihentikan untuk pengiriman TKI, khususnya PRT. BNP2TKI juga mendukung mengenai usulan ini," katanya.
Untuk manajemen pengirima TKI sebenarnya sudah puluhan tahun penanganannya kurang tepat dan ini perlu penataan kembali. "Ya, bayangkan saja kalau ada TKI yang akan dikirim ke luar negeri, tapi yang dikirim ke balai latihan kerja hanya namanya saja, semestinya orangnya, tetapi dengan cara ini suratnya juga bisa keluar," paparnya.
Untuk itu, ke depan, dalam pengiriman TKI harus ada pembenahan sehingga nantinya tidak hanya bisa mengirimkan PRT. "Negara ini salah urus, maka harus diluruskan dan diharapkan perguruan tinggi sebagai tempat para intelektual juga mau jadi pengontrol dalam pembenahan tersebut," katanya.
Peluang kerja di luar negeri, selain PRT, sebenarnya cukup banyak, seperti di Amerika Serikat saja setiap tahun membutuhkan 150.000 orang dan ini belum negara-negara maju lainnya, seperti Jepang dan Korea Selatan.
Di Jepang, sedikitnya ada 40.000 orang tua yang butuh tenaga perawat dan ini juga merupakan peluang kerja bagi lulusan sekolah-sekolah perawat yang ada di Tanah Air, katanya.
"Untuk itu, hendaknya sekolah-sekolah perawat yang ada itu juga dibekali pendidikan bahasa, baik untuk bahasa Jepang maupun Inggris," katanya.
Menurut dia, peluang kerja formal di Asia Pasifik tercatat 225.484 orang, Australia dan Selandia Baru 210.000 orang, Amerika dan Kanada 1.600.000 orang, Timur Tengah 400.000 orang, dan Eropa 600.000 orang.

