Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 11:55 WIB
Karena Keilmuan dan Keulamaannya, Gus Sholah Cocok Pimpin NU
| Abi | Rabu, 17 Maret 2010 | 12:58 WIB
|
Share:

KOMPAS.com/Caroline Damanik
Shalahuddin Wahid

BOGOR, KOMPAS.com — KH Salahuddin Wahid dinilai oleh sebagian kalangan cendekiawan Nahdlatul Ulama di kampus Institut Pertanian Bogor sebagai sosok yang tepat untuk memimpin organisasi sosial keagamaan umat Islam terbesar di Indonesia itu.
    
Cendekiawan NU yang mewakili generasi senior, Prof Dr Ir Surjono Hadi Sutjahjo MS, mengatakan hal itu pada Rabu (17/3/2010). Menurutnya, Gus Sholah punya nilai lebih dalam hal pengalaman dan senioritas dibanding sejumlah kandidat yang kini dimunculkan, seperti KH Masdar Farid Mas’udi, KH Said Aqil Siradj, Slamet Effendi Yusuf, Ahmad Bagja, Ali Maschan Moesa.
    
Muktamar ke-32 NU dijadwalkan digelar pada 22-28 Maret 2010 di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Surjono mengatakan, apresiasi terhadap Gus Sholah sebagai figur tokoh yang diharapkan memimpin NU ke depan didasari oleh berbagai pertimbangan logis, antara lain kualitas kepemimpinannya yang mumpuni dan sudah teruji.
    
Selain itu, kata dia, kapasitasnya juga dinilai lebih mumpuni dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya. "Kapasitas Gus Sholah sangat mumpuni karena, selain sebagai seorang ulama, beliau juga sarjana yang telah ditempa oleh zaman dengan pengalaman panjang sejak era Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono," kata Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Pascasarjana IPB itu.
    
Ia juga melihat bahwa sosok Gus Sholah bisa diterima, baik di kalangan "NU struktural" maupun "NU kultural tradisional" serta "NU kultural intelektual" sehingga bisa berkomunikasi dengan baik kepada kelompok muda dan tua di NU.
    
"Secara khusus, saya amati dari berbagai aspek itu, Gus Sholah paling layak memimpin NU. Harapannya, para muktamirin (peserta muktamar) bisa melihat kelebihan itu sehingga dapat membawa perubahan di tubuh NU," ucapnya.
    
Sementara itu, cendekiawan muda NU Bogor yang juga salah satu pendiri Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) IPB, Fitri Hasanah, MSi, menyatakan bahwa NU ke depan harus menjadi kekuatan utama masyarakat sipil. Dengan kapasitas "keulamaan" dan "keilmuan" yang ada, Gus Sholah diharapkan bisa mencapai tujuan itu.
    
"Kuncinya ada di muktamar nanti. Bila terpilih sebagai ketua umum PBNU, Gus Sholah diharapkan dapat mengembalikan jati diri NU sebagai kekuatan masyarakat sipil," katanya. Mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Malang itu mengatakan, selain dibutuhkan tipe pemimpin berkarakter dan visioner, syarat lain yang harus dipenuhi NU agar kembali menjadi kekuatan utama masyarakat sipil adalah penguatan peran-peran kemasyarakatan.
    
"Peran kemasyarakatan NU perlu diperkuat lagi ke depan. Harus seimbang dengan peran politik sehingga manfaat NU semakin dirasakan masyarakat luas," katanya.
    
Terkait dengan penguatan masyarakat sipil, Surjono Hadi Sutjahjo menambahkan bahwa ia menaruh harapan kepada Gus Sholah. Ia berharap agar Gus Sholah dapat menjadikan NU sebagai pilar utama masyarakat sipil Indonesia pada era reformasi ini karena kepemimpinan yang ditawarkan cukup visioner dan berkarakter.
    
"Gus Sholah mempunyai visi yang sangat baik bagi NU, yakni dengan menumbuhkan budaya kerja organisasi yang baik. Itu yang perlu diperbaiki di dalam NU," katanya.

Pada zaman KH Abdurrahman "Gus Dur" Wahid, NU menurutnya sangat disegani di dunia karena memiliki kemandirian dan sikap kritis terhadap negara. Dengan demikian, ia berharap, bila Gus Sholah memimpin, maka NU akan semakin maju dan dinamis sebagai ormas Islam terbesar yang mandiri dan kokoh.

Sumber :
ANT
Advertorial
»