Din mengatakan, sudah delapan bulan Obama berpidato tentang perspektif baru hubungan Amerika dengan dunia Islam di Mesir. Namun, sampai saat ini belum ada realisasi dari pidato tersebut. ”Saya sebenarnya kecewa dengan fakta itu,” ujarnya di Surabaya, Selasa (16/3).
Dalam pidato di Universitas Al Azhar, Kairo, pada 4 Juni 2009, Obama menyatakan, dunia Barat harus menyadari Islam sebagai agama yang toleran. Di masa kecilnya di Indonesia, Obama melihat langsung bukti toleransi pemeluk Islam pada umat agama lain. Ia juga mengajak harus belajar dari Indonesia soal hubungan antarumat beragama.
Pidato itu dinilai Din sebagai perspektif baru. Belum pernah satu presiden AS yang menyatakan dengan tegas tentang hal tersebut dalam sebuah forum terbuka. Karena itu, menurut Din, kedatangan Obama harus diapresiasi dan dimanfaatkan untuk membangun dialog antara dunia Islam dan Obama.
Tentang penolakan sebagian pihak, menurut dia, hal itu wajar. Setiap orang punya hak menyalurkan aspirasi politik masing-masing. ”Tetapi, sewajarnya kita menyambut Presiden AS yang punya niat membangun dialog dengan dunia Islam dan kerja sama dengan Indonesia,” ujarnya.
Di Jakarta, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga mengingatkan umat Muslim di Indonesia untuk tidak menolak kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi di Jakarta, Selasa (16/3). Menurut dia, tidak ada aturan Islam untuk menolak tamu. Islam justru mengajarkan umat memuliakan tamu. ”Rasulullah saja menjalin hubungan diplomatik dengan umat agama lain, termasuk Yahudi,” katanya.
Ketua Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Effendy Choirie secara terpisah juga mengemukakan pendapat senada. ”Nabi bahkan memuliakan tamu yang datang, baik dari kaum Nasrani (Kristen) maupun Yahudi,” ujar anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa itu.
