JAKARTA, KOMPAS.com - Kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama ke Indonesia diperkirakan akan memberikan sentimen positif jangka pendek bagi pasar finansial (pasar uang dan saham). Demikian diutarakan Ekonom Econit Hendri Saparini ketika dihubungi Persda Network dari Jakarta, Selasa (16/3/2010).
"Kunjungan kenegaraan dari presiden negara maju seperti AS biasanya seperti itu akan memberikan sentimen positif ke pasar finansial jangka pendek namun apakah bisa untuk jangka panjang? Itu pertanyaan pentingnya," kata Hendri.
Menurut dia negara maju termasuk AS tahun ini akan mengalami rebound (ekonomi mulai pulih). Ini membuat suku bunga dan instrumen keuangan lainnya akan membaik. Kalau itu terjadi, lanjut Hendri, maka akan menarik potensi dana asing di pasar finansial domestik kembali ke AS.
"Kalau pemerintah Indonesia kembali memberikan yield obligasi agar (dana di sektor finansial) tidak lari maka ini kerugian bagi rakyat Indonesia karena saat ini obligasi kita sudah sangat tinggi dengan yield 7- 8 persen. Sementara di negara AS 1,5 persen. Dan negara seperti Filipina misalnya hanya 3,5 persen. Kalau itu terjadi maka yang akan terjadi adalah finansial bubble," kata Hendri.
Dia mengatakan kebijakan pemerintah tak selalu harus mempertahankan sektor finansial tapi kemudian melupakan sektor riil. "Yang harus dicari terobosan adalah bagaimana me-link-kan (menghubungkan) antara sektor finansial dan sektor riil. Dalam lima tahun terakhir ini ada missing link antara sektor finansial dan sektor riil," katanya.
Kendati demikian, Hendri Saparini memandang pasar finansial masih akan tetap menunggu kejelasan jadwal kedatangan Obama. "Karena beberapa kali jadwal dan lokasi yang akan dikunjungi berubah. Tentu saja informasi ini akan jadi pertanyaan besar. Kalau kunjungan kenegaraan tentu saja pada umumnya negara yang dikunjungi kalau itu dianggap penting. Kalau banyak kalangan anggap apakah benar Indonesia dianggap penting secara ekonomi bagi AS?" katanya.
