Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 11:25 WIB
Polisi Awasi Kediaman Ayah Maruto
Hendra Gunawan | made | Sabtu, 13 Maret 2010 | 22:27 WIB
|
Share:

Persda Network/Bian Harnansa
Densus 88 Antiteror

TERKAIT:

KLATEN, KOMPAS.com — Setelah riwayat Dulmatin tamat, kini kepolisian mulai mengintensifkan pencarian para buron teroris di daerah Kabupaten Klaten dan sekitarnya. Setidaknya, di daerah tersebut ada satu teman Noordin M Top yang menjadi buron sejak beberapa tahun lalu, yaitu Maruto Jati Sulistyo, warga Desa Pakisan, Kecamatan Cawas.

Tim Satgas Densus dan intel polisi dalam beberapa pekan ini lebih sering terlihat di daerah tersebut. Menurut mantan Kades Pakisan Sudadi, saat ini hampir setiap saat polisi, baik yang berseragam maupun berpakaian preman, hilir mudik di sekitar kediaman Ir Sujono, ayah Maruto.

"Biasanya mereka juga datang ke saya dan menanyakan situasi dan kondisi di daerah ini. Kalau misalnya ada yang mencurigakan, maka akan saya laporkan," kata Sudadi, yang ditemui Persda Network di rumahnya, Sabtu (13/3/2010).

Ketua RT 03/05 Pakisan Sunarto mengatakan, sejak melarikan diri, Maruto sudah tidak pernah lagi terlihat. "Dia seperti hilang ditelan bumi," ujarnya.

Maruto kabur dari rumah orangtuanya sejak menjadi buron polisi karena dianggap membantu Noordin M Top dan mengobati luka teroris itu saat tertembak dalam penggerebekan di Solo beberapa tahun lalu.

Suatu ketika, Sudadi pernah curiga ketika berobat di tempat praktik dr Sri Utami, istri Maruto. Saat itu, kata dia, dokter wanita itu menutupi mukanya dengan cadar. "Tapi saya melihat tangan dr Sri kok besar dan kekar seperti tangan laki-laki. Padahal, yang saya tahu tangannya itu ramping," katanya.

Dia pun memperkirakan bahwa orang bercadar itu bukan Sri Utami, melainkan Maruto yang sedang menyamar. Sudadi membantah kalau dalam beberapa hari ini ada penembakan yang menewaskan tiga teroris di rumah Maruto. "Sama sekali tidak ada penembakan. Kalau ada warga yang ditembak, saya pasti tahu," ujarnya.

Sekarang pagar rumah kediaman orangtua Maruto telah ditinggikan sehingga sulit dilihat dari luar. Berdasarkan pantauan, rumah cukup besar itu dalam kondisi sepi. Saat gerbangnya diketuk-ketuk, tak satu pun orang yang muncul untuk membukakan pintu pagar. "Keluarga itu memang tertutup jadi sulit berhadapan dengan mereka," ungkap seorang warga.

Sumber :
Persda Network
Advertorial
»