Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 06:42 WIB
Terbang ke Jepang, JK Jajaki Pabrik Pengolah Darah
Suhartono | made | Sabtu, 13 Maret 2010 | 19:50 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Untuk menjajaki pembangunan pabrik kantong dan pengolah darah di Indonesia, Ketua Umum Palang Merah Indonesia Pusat Muhammad Jusuf Kalla menuju Jepang. Untuk menjajaki teknologinya, Kalla juga dijadwalkan akan ke Korea Selatan pada bulan berikutnya.

Kalla dijadwalkan akan melihat langsung pabrik pembuat kantong darah dan proses pengolahan darah atau fraksionasi di Osaka dan Tokyo hingga pekan depan. Hal itu disampaikan Kalla saat dikonfirmasi oleh Kompas, Sabtu malam, sebelum menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang.

Sebelum ke Jepang, Kalla sejak resmi menjadi Ketua Umum PMI Pusat tercatat telah mengunjungi 14 provinsi untuk melihat langsung stok kantong darah di daerah, selain juga menemui cabang PMI dan kegiatan donor darah.

"Ya, Jepang merupakan negara yang sangat baik sistem pengolahan darahnya, selain juga sangat lengkap fasilitasnya. Oleh karena itu, saya harus melihat langsung. Saya juga ingin melihat pabrik kantong darah dan plasma darah," katanya.

Menurut Kalla, karena tidak adanya unit pengolahan darah, PMI kadang-kadang membuang darah. "Padahal, di sana tidak. Semuanya diproses dan diolah lagi sehingga betul-betul efisien sehingga kita tidak perlu mengimpor lagi bahan-bahannya. Selama ini, kan, semuanya kita impor," tandas Kalla.

Kalla menyatakan, setiap negara harus memiliki persediaan darah yang memadai untuk layanan pengobatan. "Persoalannya jika suatu saat terjadi keadaan darurat, misalnya perang atau apa. Lalu, kebutuhan kita tiba-tiba macet total akibat stoknya habis atau diembargo negara lain. Tentu, hal ini tidak boleh terjadi. Sebab itu, kita harus mandiri dalam memenuhi kebutuhan darah kita sendiri," tambah Kalla.

Tahun ini berdiri


Menurut Kalla, PMI Pusat segera akan membangun pabrik pengolah dan pembuatan kantong darah sendiri bekerja sama dengan sejumlah pengusaha yang mau terjun di bidang kemanusiaan. Tahun ini juga, pabrik kantong darah PMI diharapkan bisa diselesaikan. "Nantinya, PMI juga harus punya andil dan ikut sebagai pemegang sahamnya," ucap Kalla.

Tentang nilai investasinya, Kalla menyebut angka Rp 1 triliun. "Kalau untuk pabrik kantong darahnya tidak terlalu mahal, yaitu sekitar Rp 100 miliar. Jika digabung untuk reagan (pengindikasi virus) dan fraksionasi (proses penguraian protein plasma dari darah), tentu investasinya menjadi mahal, ya Rp 1 triliun itu," katanya.

Menurut Kalla, kebutuhan kantong darah setahun tercatat 4 juta kantong. Dengan adanya pabrik kantong sendiri, PMI bisa menargetkan jumlah produksi 5-6 juta kantong darah. "Kalau lebih produksinya, kita bisa impor lagi. Setidaknya, untuk menopang ini dan kestabilan pasokan darah, harus ada tiga industrinya," papar Kalla.