Senin, 28 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 28 Mei 2012 | 11:04 WIB
Kinerja Legislasi DPR di Tengah Gonjang-ganjing Politik
Inggried Dwi Wedhaswary | Edj | Jumat, 12 Maret 2010 | 16:11 WIB
|
Share:

KOMPAS.com/Caroline Damanik
I

JAKARTA, KOMPAS.com - Sepak terjang DPR dalam tiga bulan terakhir hampir didominasi dengan hiruk pikuk kerja Pansus Angket Kasus Bank Century. Kerja Pansus ini bagian dari fungsi pengawasan yang melekat pada lembaga perwakilan rakyat. Bagaimana fungsi lainnya, legislasi?

Target yang ditetapkan Badan Legislasi (Baleg) DPR pada tahun 2010 cukup tinggi. Sebanyak 70 Rancangan Undang-Undang (RUU) ditargetkan selesai penggodogannya pada tahun ini.

Wakil Ketua Baleg, Ida Fauziah mengatakan, energi Dewan yang banyak terkuras di Pansus Century tak membawa dampak langsung pada kinerja Baleg. "Anggota Pansus sedikit yang menjadi pimpinan komisi dan pimpinan Baleg malah tidak ada. Jadi tidak membawa pengaruh signifikan terhadap Baleg ataupun komisi," kata Ida, pada diskusi "DPR antara Gonjang-ganjing Politik dan Beban Legislatif", di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (12/3/2010).

Dari 70 RUU yang ditargetkan, DPR menginisiasi 38 RUU, sedangkan 32 sisanya merupakan inisiasi dari pihak pemerintah. Saat ini, dari 32 RUU inisiatif pemerintah, baru 5 RUU yang diajukan ke DPR.

Hingga masa persidangan kedua, dua RUU sudah disetujui di paripurna yaitu UU Mata Uang dan UU Protokol. "Dan yang siap diharmonisasi oleh Baleg ada 6 RUU," kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Ida menyatakan keoptimisannya, Baleg akan memenuhi target legislasinya untuk tahun ini.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta, Cecep Effendi justru pesimistis Dewan bakal memenuhi target legislasi. Berdasarkan catatannya, DPR rata-rata hanya mampu merampungkan pembahasan 38,6 persen RUU yang ditargetkan. "Ini angka obyektifnya. Kenyataannya tidak pernah mencapai target," ujar Cecep.

Apalagi, lebih dari 70 persen komposisi anggota DPR 2009-2014 merupakan wajah baru. Hal ini menurutnya akan mempengaruhi kinerja Dewan. "Padahal, dalam pembahasan RUU, anggota harus terlibat secara aktif," kata Cecep.

Sementara itu, Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia, Sebastian Salang mengatakan, terkait target legislasi, DPR dinilainya lebih mengedepankan aspek bombastis dibandingkan realistis.