PEMALANG, KOMPAS.com — Tersangka teroris Dulmatin sejak kecil dikenal oleh teman-temannya sebagai orang yang keras. Dia juga tidak bersedia mengikuti upacara dan menghormat bendera Merah Putih saat duduk di bangku sekolah dasar.
Hal itu disampaikan Kustaji, tetangga Dulmatin di Kelurahan Petarukan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. Menurut dia, saat masih sekolah, Dulmatin sering bersembunyi saat berlangsung upacara bendera.
"Dia sering ngumpet," katanya.
Kustaji mengaku sudah tidak bertemu Dulmatin sejak tahun 2000. Sebelum pergi dari Pemalang, Dulmatin berprofesi sebagai penjual mebel dan makelar mobil.
"Dulu perginya juga seperti orang mau merantau," ujarnya.
Zaid Ahmad Sungkar, juru bicara keluarga, menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu pemulangan jenazah Dulmatin. Menurut dia, istri dan anak-anak Dulmatin tidak kaget dengan kejadian itu karena sudah sering mendengar isu kematian Dulmatin.
Zaid mengaku belum mengetahui rencana istri Dulmatin, Istiada, setelah pemakaman suaminya, apakah akan tetap tinggal di Sukoharjo atau kembali ke Pemalang.
"Tapi awal tujuan pindah ke Sukoharjo karena ingin menyekolahkan anak-anaknya," kata Zaid Ahmad Sungkar.
