Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 04:26 WIB
Di Mana Dulmatin Simpan Bom? Polisi Terus Mencari
| Abi | Kamis, 11 Maret 2010 | 13:25 WIB
|
Share:
DHONI SETIAWANKepala Pusdokkes Mabes Polri Brigjen Pol dr Musaddeq Ishaq menunjukkan foto tersangka teroris Dulmatin di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (10/3/2010). Pihak kepolisian melalui hasil tes DNA dan ciri fisik lainnya, memastikan Dulmatin sebagai salah satu dari tiga tersangka teroris yang tewas saat penggerebekan di daerah Pamulang, Selasa 9 Maret 2010. KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN

JAKARTA, KOMPAS.com — Kabareskrim Polri Komjen Ito Sumardi mengatakan, Polri terus mencari bom yang diduga telah dirakit oleh Dulmatin dan kelompoknya.
    
”Bom itu diduga telah dirangkai karena polisi menemukan rangkaian pemicu bom yang bisa dikendalikan dari jarak jauh (remote control),” kata Ito pada acara apel latihan gabungan antiteror TNI dan Polri di Monas, Jakarta, Kamis.
    
”Kami sedang mencari di mana bahan peledak atau bomnya karena kemarin pemicunya sudah ditemukan,” katanya.
    
Polri akan mencari bahan peledak dan bom dari kelompok  Dulmatin karena diduga memiliki efek ledakan yang lebih besar. Dulmatin bersama Ali Imran, terpidana seumur hidup bom Bali 2002 dan Dr Azahari (tewas tertembak di Batu, Jawa Timur, 2005) merakit bom Bali 2002 yang mengakibatkan 202 orang tewas dan ratusan orang lainnya mengalami luka-luka.
    
Terkait dengan adanya senjata api yang dimiliki kelompok ini, Ito mengatakan, Polri telah menyita tujuh senjata api jenis revolver, pistol jenis FN, AK 47, dan M16.  ”Jumlah senjata yang dimiliki mereka bisa saja lebih banyak lagi. Para tersangka yang tertangkap tidak mau buka mulut soal asal senjata itu,” katanya.
    
Ito mengatakan, senjata itu diduga berasal dari luar negeri dan diselundupkan dengan bentuk komponen-komponen kecil. ”Senjata kan bisa dirakit di sini. Asal-usul senjata bisa dari mana saja. Ini juga yang sedang kita cari dari mana mereka mendapatkan senjata,” katanya.
    
Menurut dia, polisi juga mencari asal sekitar 7.000 peluru yang juga disita. Peluru-peluru itu diduga berasal dari luar, tetapi ada juga yang berasal dari dalam negeri.
    
”Banyak peluru yang kelihatannya sudah tua dan bekas dipendam lama di dalam tanah. Bisa saja ini peluru yang diperoleh dari sisa konflik di Aceh. Peluru itu bisa dari mana saja,” ujarnya.
    
Ito mengatakan, kelompok Dulmatin yang berlatih kemiliteran di Aceh tidak punya pelatih secara khusus, tapi berasal dari kalangan mereka sendiri. ”Berlatihnya dengan cara berbagi pengalaman. Sebagian dari mereka kan pernah menjadi sukarelawan dan mendapatkan latihan militer di Filipina dan Afganistan,” ujarnya.
    
Soal aliran dana, Ito belum bisa menjelaskan dan Polri akan bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Polri menyita barang bukti kiriman uang dalam bentuk mata uang rupiah dan uang asing dari lokasi penangkapan di Pamulang.

Sumber :
ANT