PAMULANG, KOMPAS.com — Sebelum pindah dari rumah kontrakannya di Jalan Salak 5 Buaran, Pamulang, Tangerang Selatan, Dulmatin alias Yahya Ibrahim sempat memesan 9 tas ransel. Tas tersebut dipesan khusus dengan ukuran besar dan berbahan kain seperti ransel TNI.
"Satu bulan yang lalu, Ibrahim (demikian warga memanggil Dulmatin) pesan tas camping. Katanya mau pulang kampung," kata Teguh Wiyono, perajin tas yang tinggal sekitar 20 meter dari rumah kontrakan Dulmatin, ketika ditemui di rumahnya, Kamis (11/3/2010).
Menurut Teguh, semua tas pesanannya sudah diambil. Dari 9 tas itu, empat di antaranya diambil langsung Ibrahim dan lima tas lainnya diambil oleh teman-temannya. "Pesanan tasnya pakai nama Ibrahim," kata Teguh.
Dari pembayaran tas itu, kata Teguh, Dulmatin masih memiliki utang sebesar Rp 70.000. "Saya sudah ikhlaskan kok," tambah Teguh, yang sering bertemu dengan Dulmatin di masjid.
Menurut Teguh, dirinya tidak melihat lagi wajah Dulmatin dalam waktu dua minggu terakhir. "Saya enggak pernah lihat lagi Ibrahim. Terakhir saya melihatnya di televisi, setelah tertembak. Katanya ia teroris. Saya enggak nyangka kalau dia itu teroris. Orangnya baik sekali," kata Teguh.
